serunai impian

Wednesday, June 22, 2005

Jodoh dan Kedewasaan Kita

Jodoh dan kedewasaan kita adalah problema serius, terutama bagi paraMuslimah. Kemana pun mereka melangkah, pertanyaan-pertanyaan "kreatif" tiada henti membayangi. Kapan aku menikah? Aku rindu seorang pendamping, namun siapa? Aku iri melihat wanita muda menggendong bayi, kapan giliranku dipanggil ibu? Aku jadi ragu, benarkah aku punya jodoh? Atau jangan-jangan Tuhan berlaku tidak adil?

Jodoh serasa ringan diucap, tapi rumit dalam realita.Kebanyakan orang ketika berbicara soal jodoh selalu bertolak dari sebuah gambaran ideal tentang kehidupan rumah tangga. Otomatis dia lalu berpikir serius tentang kriteria calon idaman. Nah, di sinilah segala sedu-sedan pembicaraan soal jodoh itu berawal. Pada mulanya, kriteria calon hanya menjadi 'bagian masalah', namun kemudian justru menjadi inti permasalahan itu sendiri.

Di sini orang berlomba mengajukan "standardisasi"calon: wajah rupawan, berpendidikan tinggi, wawasan luas, orang tua kaya, profesi mapan, latar belakang keluarga harmonis, dan tentu saja kualitas keshalihan.

Ketika ditanya, haruskah seideal itu? Jawabnya ringan,"Apa salahnya? Ikhtiar tidak apa, kan?" Memang, adajuga jawaban lain, "Saya tidak pernah menuntut. Yang penting bagi saya calon yang shalih saja." Sayangnya,jawaban itu diucapkan ketika gurat-gurat keriput mulai menghiasi wajah. Dulu ketika masih fresh, sekadar senyum pun mahal.

Tidak ada satu pun dalih, bahwa peluang jodoh lebih cepat didapatkan oleh mereka yang memiliki sifats uperior (serbaunggul). Memperhitungkan kriteria calon memang sesuai sunnah, namun kriteria tidak pernah menjadi penentu sulit atau mudahnya orang menikah.Pengalaman riil di lapangan kerapkali menjungkirbalikkan prasangka-prasangka kita selama ini.

Jodoh, jika direnungkan, sebenarnya lebih bergantung pada kedewasaan kita. Banyak orang merintih pilu, menghiba dalam doa, memohon kemurahan Allah, sekaligus menuntut keadilan-Nya. Namun prestasi terbaik mereka hanya sebatas menuntut, tidak tampak bukti kesungguhan untuk menjemput kehidupan rumah tangga.

Mereka bayangkan kehidupan rumah tangga itu indah,bahkan lebih indah dari film-film picisan ala bintangIndia, Sahrukh Khan. Mereka tidak memandang bahwa kehidupan keluarga adalah arena perjuangan, penuh likudan ujian, dibutuhkan napas kesabaran panjang, kadang kegetiran mampir susul-menyusul. Mereka hanya siap menjadi raja atau ratu, tidak pernah menyiapkan diri untuk berletih-letih membina keluarga.

Kehidupan keluarga tidak berbeda dengan kehidupan individu, hanya dalam soal ujian dan beban jauh lebih berat. Jika seseorang masih single, lalu dibuai penyakit malas dan manja, kehidupan keluarga macam apa yang dia impikan?

Pendidikan, lingkungan, dan media membesarkan generasi muda kita menjadi manusia-manusia yang rapuh. Mereka sangat pakar dalam memahami sebuah gambar kehidupan yang ideal, namun lemah nyali ketika didesak untukmeraih keidealan itu dengan pengorbanan. Jika harus ideal, mereka menuntut orang lain yang menyediakannya.Adapun mereka cukup ongkang-ongkang kaki. Kesulitan itu pada akhirnya kita ciptakan sendiri, bukan dari siapa pun.

Bagaimana mungkin Allah akan memberi nikmat jodoh, jika kita tidak pernah siap untuk itu? "Tidaklah Allahmembebani seseorang melainkan sekadar sesuai kesanggupannya." (QS Al Baqarah, 286). Di balik fenomena "telat nikah" sebenarnya ada bukti-buktikasih sayang Allah SWT.

Ketika sifat kedewasaan telah menjadi jiwa, jodoh itu akan datang tanpa harus dirintihkan. Kala itu hati seseorang telah bulat utuh, siap menerima realita kehidupan rumah tangga, manis atau getirnya, dengan lapang dada.

Jangan pernah lagi bertanya, mana jodohku? Namunbertanyalah, sudah dewasakah aku?

Wallahu a'lam bisshawaab.

Wednesday, June 08, 2005

rumpian

"Berita nih...tadi An telpon gw, bilang dah dilamar...."

Ini sms semalam dari temen ngocol sesama jomblo. Sebenarnya aku anti dengan istilah ini (jomblo.red). Kesannya seperti kaum terpinggirkan gitu..he..he..he.. Ibarat jualan, barang yang gak laku jual di tahun-tahun berikut bisa dijual dengan diskon gede-gedean. Belum lagi, jleg! didepan komputer siang tadi, baca milis, "ngejomblo itu nikmat" ditulis oleh ikhwan usia 23 tahun.

He..he..he...belum tahu dia.

Btw, bukan mau bahas itu. Kembali ke topik sms tadi, di satu sisi aku berucap "alhamdulillah", karena teman satu gank ada yang jebol satu. Bayangin aja. Dari 7 akhwat dalam satu gank yang dibina sejak tahun 2001 lalu, belum ada satu pun janur kuning melengkung di depan ruman yang menandai syahnya ijab qabul dilakukan. Acara lamar-melamar sudah barang klise yang setiap saat bisa didengar. Karena banyak kejadian yang dialami mereka semua membuat aku terpaku, "kok bisa...?" Itulah sisi lain yang membuatku was-was.

Aku akui banyak suka duka yang telah kami lewati untuk menjemput lima huruf yang seperti barang mati, sulit dimiliki, JODOH. He..he..he..kan etapi mudah-mudahan....kali ini apa yang dicita-citakan An berhasil.

*****
Di ujung telepon, teman yang ngirim sms semalam bilang, "Me..bener gak ya omongan si An itu, kadang gw bingung ama ucapannya...bla..bala..."

Jadilah, siang itu aku dan dia ngerumpi soal keanehan sobat yang baru dilamar itu di pesawat telepon (Gibah ya...duhh!).Ujung-ujungnya...ya... kita lihat saja nanti!

Barokallaah ya Ukhti.....

Sunday, June 05, 2005

Tambah satu ponakan...:)

Alhamdulillah…keponakanku bertambah satu hari ini. Sepintas lihat di infotainment, istrinya Ariel Peterpan juga melahirkan anak perempuan di Bandung. Jadi, kloplah! Ko, bisa begitu?

Btw, sudah tiga hari tiga malam kakakku berada di Rumah Sakit Sariningsih, Bandung. Tanggal kelahiran bayi ini sebenarnya berada di luar dugaan. Sebelumnya, diperkirakan akhir Juni ini bayinya akan lahir. Tapi ternyata sewaktu melakukan kontrol kesehatan yang dilakukan tiap Kamis, kondisi kehamilan bayi dalam kandungannya sudah bukaan dua. Otomatis, kakakku itu panik. Suaminya pun dengan sigap mempersiapkan “hijrah” dengan mengungsikan dua anaknya dari rumah di Tanjungsari, Sumedang ke Cicadas, Bandung, rumah eyangnya.

Dari bukaan dua yang dipikir bakal lahir malam itu, hingga berlanjut pagi belum terjadi kotraksi apa-apa. Waktu aku terima kabar ini pun, sempat terpikir mungkin jum’at bakal lahir. Ternyata sampai Jum’at malam, sudah bukaan empat pun bayi belum lahir. Minggu, sewaktu kami jenguk, kondisi kakak sudah pucat pasi, wajah terlihat cekung dan tubuh agak kurus. Kata kakak ipar, tubuh agak kurus sengaja diet agar memudahkan persoses persalinan. Wadduh….!

Saat itu, kakak sudah memasuki bukaan enam. Wadduh….(lagi)! Hamil dan melahirkan mengapa ribet begini. Bahkan, teman sebelah tempat tidur kakak pun sudah memasuki bukaan tujuh, belum juga brojol. Asyiknya, mereka sepertinya begitu sabar menanti detik-detik kelahiran bayinya yang entah keberapa. Ada yang sibuk berdzikir menahan rasa sakit, mengaji Al Qur’an pun ada.

Subhanallah, begitu indahnya Allah menciptakan keagungan perempuan, hingga saat derita sakit yang amat sangat pun mereka masih mengingat asma Allah. Pantas saja, seorang ibu memiliki kharisma yang tinggi dalam al Qur’an maupun hadits. Karena perjuangan seorang ibu saat melahirkan seperti memuntahkan isi dari perut bumi yang terendap selama sembilan bulan. Setelah semua di “muntahkan”, para ibu harus kembali berjuang menyelamatkan “bumi” yang rusak.
Pada dasarnya setiap anak yang lahir adalah suci, tinggal bagaimana orangtua mendidik mereka seperti apa dan lingkungan tempat dia dibesarkan seperti apa. Mudah-mudahan ponakanku yang akhirnya lahir pada minggu malam ini pun tetap terjaga kesuciannya dan menjadi anak shalihah. Amiin

Saturday, June 04, 2005

mengapa masih ada...?

Ada seorang teman yang bercerita tentang kekhawatiran masa depan adiknya. Sebagai seorang laki-laki, adiknya itu sebenarnya memiliki banyak potensi yang bisa dijadikan ladang mata pencaharian. Sebut saja si A adik teman saya itu merasa tak ada perhatian dari orang sekitarnya, terutama ibu. Pada saat stagnan dimana si A berada pada titik jenuh karena tidak ada yang bisa dikerjakan di usianya yang merangkak 28 tahun inilah, si A menggantungkan harapannya pada seorang ibu yang sudah tua renta. Si A berpikir, statusnya yang pengangguran saat ini karena kurangnya fasilitas (materi) yang diberikan si ibu dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Seorang ibu yang berpenyakitan, seorang diri membesarkan tujuh anaknya dengan berbekal uang pensiun suaminya yang sudah terpotong tiap bulannya demi menuntaskan pendidikan anak-anaknya hingga mendapatkan pendidikan terbaik. Serasa janggal memahami konsentarasi kepedulian seorang anak pada ibunya. Bukankah usia 28 adalah usia matang dimana seorang anak ‘dewasa’ seharusnya ganti menjaga ibunya dengan baik dan penuh kasih, bukan masih meminta dan berharap belas kasih.

Kasus A mungkin tak beda dengan pemuda-pemuda di ibukota yang kebingungan dengan masa depan. Pengalaman kerja tak ada, sementara usia kian bertambah. Beruntunglah, mereka yang bisa menahan diri dari minuman keras, main perempuan dan lebih mendekatkan kesabaran dengan mengharap ridla dari Allah SWT. Karena peluang kerja saat ini tidak bisa hanya dengan diam menunggu, tapi harus bisa menciptakan lapangan kerja sendiri.

Bicara memang mudah, mencipta lapangan kerja cenderung punya banyak resiko. Butuh modal sendiri, siap merugi, harus tahu target pasar, cara memasarkan dan lain-lain. Tak pelak, menunggu “godot” pak Pos membawa kabar berita lebih banyak diminati kaum penganggur pasif.

Mudah-mudahan, mereka yang sedang mencari pengalaman kerja saat ini mendapat kemudahan dan sukses meniti karir. Sehingga tidak ada yang perlu disalahkan bila gagal meraih asa hari ini. Amiin…..

Wednesday, June 01, 2005

Are You Really Happy?

Anda wanita berusia di atas 32 tahun. Masih melajang. Tak punya pacar, apalagi calon suami. Percaya diri dengan kesendirian Anda dan tak gentar menanti hari ulang tahun yang mendadak jadi lebih cepat datangnya. Lupa bahwa wanita-wanita di sekitar Anda sudah menimang anak di usia yang sama. Tak frustrasi memikirkan pernikahan. Tak iri melihat melihat cewek di sebelah Anda bolak balik berkirim SMS dengan wajah menahan rindu. Tetap tegar, ketika di depan Anda sepasang kekasih asyik berangkulan mesra. Anda bahkan bisa bangun pagi-pagi dan merias diri dengan penuh semangat, tanpa harus berpikir, “Untuk siapa aku berdandan hari ini?”

Jika Anda mengangguk untuk sederet data di atas, maka aku harus mengacungkan dua jempol untuk Anda. Tapi sebelum aku benar-benar merasa salut, bolehkan sekali lagi aku bertanya ulang atau kasarnya menyelidik, “Are you realy happy?”

Menurutku, bohong bila Anda katakan bahagia. Sedikitnya, dalam serangkaian hari “cerah ceria” Anda pasti anda pernah merasakan sesuatu yang sama denganku. Kesepian…depresi…sedikit malu….was-was hebat ..dan senewen setiap kali orang bertanya, “Hayo menikah. Nunggu apa lagi, umur cukup, duit ada…” yang diucapkan dengan langgam yang sama seperti mengatakan, “Nunggu apa lagi, berangkat gih. Hujan udah berenti tuh..!”

Orang lain memang sok tahu. Dan sok benar. Menunggu jodoh dipikirnya sama dengan menunggu hujan reda. Padahal mereka sedikit pun tak tahu rasanya tertimpa bencana terbesar dalam hidup seorang perempuan. Susah mendapat jodoh!

Anda masih mengelak? Ho ho ho….gengsi dibilang susah jodoh, rupanya. Ya ya ya…barangkali Anda memang satu dari segelintir wanita yang memandang pernikahan sebagai lembaga aneh bin ajaib. Ditanya soal jodoh bukannya ketar-ketir, malah nyengir. Atau mungkin Anda memang penikmat hidup yang sungguh netral. Kebahagiaan tak hanya dilihat melulu dari faktor pasangan hidup. Cinta adalah universal, kata Anda dengan paras bijaksana. Well, well, dunia memang tak salah jika berisi lebih sedikit laki-laki, bila kaum wanitanya berpikiran seperti Anda.

Atau…mungkin Anda satu dari sederet wanita feminis yang dengan galak memaksa Pak RT untuk mencantumkan di KTP, status tidak menikah, ketimbang belum menikah. Apa boleh buat, mana boleh kita memaksa orang menikah kalau mereka tak suka. Iya kan? Kata tidak dan belum memang menjadi masalah jika mereka benar-benar tidak menginginkannya. Ini bisa jadi masukan baru untuk kantor kelurahan untuk segera mempertimbangkan isian baru di KTP: Tidak Menikah.

Satu lagi, jika Anda benar-benar tak memikirkan pernikahan, ya barangkali saja, ma’af lho jangan marah, Anda lesbian. Jangan dulu emosi, maksudku, salah satu dari dugaan di atas mungkin ada yang klop dengan anda. Atau kalaupun tidak sama persis, ya kombinasi dengan dugaan lainnya. Apapun, hasil akhirnya adalah Anda tak bermasalah meski tak kunjung berjodoh.

Rruarr biasa! Aku bertepuk tangan untuk Anda. Kencang. Karena Anda hebat. Dan pada tepukan ke sekian, mungkin mataku bukan lagi menyiratkan sinar kekaguman. Tapi sinar yang dengan cepat mencair menjadi air. Aku menangis. Ia betul. Menangis sungguhan. Memikirkan bagaimana mungkin banyak wanita lain bisa begitu tegar berstatus lajang menjelang usia 35.

Ini kisah nyata. Ada seorang gadis di usia 35 yang sedehana dalam semua hal. Wajahnya sederhana dalam artian tidak cantik, meski tidak juga terlalu jelek. Kekayaannya sederhana, maksudnya jelas tidak bisa dibilang kaya. Otaknya juga biasa-biasa saja. Keturunan, sama sekali tidak ada darah birunya, ditarik dari garis manapun. Dia memiliki postur tubuh tinggi ideal dengan warna kulit agak hitam (tapi manis juga, lho).

Kelebihannya –Maha Kasih Allah, diantara begitu banyak kekurangan, ia juga tetap memiliki kelebihan-kelebihan yang bisa dibanggakan. Ia memiliki hati yang tulus, senang membantu orang atau teman yang membutuhkan pertolongannya. Sehingga ia memiliki banyak sekali teman.

Istimewanya, di usianya yang sudah cukup ‘tua’ itu, ia sebut saja si A, belum pernah sama sekali merasa dicintai oleh lawan jenisnya. Kalau perkara jatuh cinta, wah..sudah berkali-kali. Tapi selalu dan selalu, ia cuma bertepuk sebelah tangan. Jika pun ia sempat dekat dengan beberapa pria, belakangan selalu gagal. Ada yang hanya memanfaatkan posisinya untuk mengambil keuntungan. Ada yang cuma untuk sharing. Ada yang entah mengapa malah meninggalkannya setelah ia betul-betul jatuh cinta.

Padahal setiap ia jatuh cinta, ia betul-betul setia dan amat penuh perhatian pada si pria tersebut. Padahal lagi, konon kabarnya seorang pria itu cenderung tertarik pada daya tarik fisik seorang perempuan, tapi ia juga akan betul-betul takluk pada perempuan yang amat setia dan penuh perhatian padanya.

Patut diakui, peran aktif perempuan umumnya memang hanya sebatas memilih calon-calon yang datang padanya. Bila belum atau tidak ada yang datang memilihnya, maka haknya itu menjadi tak terpakai. Lain halnya dengan pria, di mana pun, kapan pun dan bagaimana pun bentuk fisiknya, ia dapat saja memilih-milih seseorang atau bahkan beberapa orang perempuan, sebelum ia akhirnya sampai pada keputusan final untuk menikahi sang perempuan. Anda tetap tidak percaya?

Pada sebuah hadits, Rasulullah menyebutkan empat kriteria yang membuat pria cenderung menikahi perempuan, yaitu kecantikan, keturunan, harta dan keshalihan. Lalu, apa sih yang pertama kali nampak ketika kita bertemu atau berkenalan dengan seseorang? Penampakan fisik seperti kecantikan atau ketampanan, bukan?

Keturunan tidak akan segera diketahui. Demikian juga harta pada orang-orang tertentu. Bisa jadi ia kaya, tapi tak kelihatan. Atau juga sebaliknya. Kadar keimanan apalagi, ini paling sulit dideteksi. Contoh, bila ada dua gadis sama-sama berjilbab atau dua perempuan sama-sama rajin shalat, bagaimana kita menentukan yang mana lebih shalihah diantara keduanya? Sulit bukan?

Maka boleh dikatakan wajar jika banyak pria menempatkan kriteria cantik, ayu, manis, jelita, enak dipandang ini –sadar atau tidak – pada prioritas pertama. Sementara itu, kriteria shalihah yang menurut hadits tersebut harusnya dikedepankan, cuma bisa diletakkan di urutan ke sekian.

Kemudian muncul kriteria darurat, urgently saved, harus segera diselamatkan. Para perempuan yang masuk kriteria itu adalah kriteria yang fisiknya menonjol alias cantik dan sejenisnya. Darurat, harus segera diselamatkan. Karena kalau tidak, bisa membahayakan. Bisa membuat para pria kebat-kebit tak karuan.

Egois betul kalau memang begitu keadaannya. Ini kenyataan. Para pria berlomba-lomba memetik bunga jelita itu untuk keamanan. Sunatullah berlaku, bahwa kita akan sampai pada zaman di mana jumlah perempuan akan sangat lebih banyak dari pria. Selektivitas menempatkan para perempuan yang kebetulan ditakdirkan bukan memiliki kelebihan penampilan fisik, pada posisi tak terpilih. Anehnya, beberapa pria yang notabene pengalaman keimanannya sudah cukup baik pun seperti terjerat dalam fenomena ini. dan tinggallah perempuan-perempuan itu dalam kesendirian. Ia berjuang buat hidup dan matinya sendirian. Ia menjadi sekeras baja dan penuh kemandirian.

Sementara, setiap perempuan adalah manusia. Ia tetap bisa jatuh cinta dan tetap butuh untuk dicintai. Sementara, setiap ia mulai mencintai, ia akan dihadapkan pada kenyataan bahwa ia cuma bisa menggunakan hak mencintai dan bukan hak dicintai. Seperti sebuah hukum rimba yang berlaku dalam sistem sosial manusia, tanpa disadari bahwa untuk bisa mendapat sebuah haknya, ia terlebih dahulu harus memiliki syarat-syarat kekuatan tertentu yang menyebabkan ia dapat memperoleh haknya itu. Salah satunya yang terlihat fenomenal adalah ia harus ‘berpenampilan menarik’ untuk dapat dicintai. Sekarang, maukah anda mengakui ada hal-hal seperti itu terbersit dalam benak anda? Are you really happy?

Well, well, baiknya segera kita coba berpikir lebih bersih lagi. Bahwa apa yang dipilihkan Allah SWT untuk kita adalah yang terbaik. Mengapa kita tidak bisa lebih bersyukur lagi akan apa-apa yang datang dari-Nya? Biarlah takdir Allah saja yang mengantarkan kita pada pantai cinta, setalah kita cukup berusaha dengan niat, cara dan tujuan yang baik.

Buat para perempuan yang yang belum juga terpilih, semoga Anda selalu yakin bahwa Allah amat mencintai Anda dan pada-Nya paling berhak kita labuhkan cinta.

Tuesday, May 31, 2005

Tetangga Di Surga

Abu Yazid Al Busthami adalah seorang yang dikenal rajin bermunajat kepada Allah, karena keinginannya masuk surga. Hatinya senang, pikirannya seolah-olah melayang sampai ke arasy Tuhan.

"Inilah tempat Rasulullah, semoga aku kelak menjadi tetangganya di surga," bisik hati kecilnya. Ketika ia tersadar dari khayalannya, tiba-tiba terdengar suara menyeru.

"Ada seorang hamba yang kelak akan menjadi tetanggamu di surga. Ia tinggal di negeri ini," kata suara itu.

Terdorong hatinya untuk mencari sahabatnya yang kelak menjadi tetangganya di surga, Abu Yazid pergi mencari orang yang disebutkan itu. Ia berjalan kaki sejauh 100 farsah hingga sampai ke sebuah negeri tempat orang yang disebutkan itu.

Ketika ia akan menjumpai orang itu, seorang lelaki menasehatinya. "Mengapa engkau mencari yang fasiq dan peminum arak itu. Padahal dari tanda-tanda di dahimu kau adalah seorang yang shaleh," ujarnya.

Mendengar nasehat itu, hati Yazid jadi termangu. "Jika demikian suara yang menyuruhku saat aku bermunajat itu adalah suara syaitan. Mengapa aku harus menurutinya," bisiknya di dalam hati.

Tetapi ketika dia akan melangkahkan kaki untuk kembali, hatinya kembali termangu. "Aku datang jauh-jauh kemari untuk menemui orang itu, aku tak akan pulang sebelum bertemu dengannya," bisiknya dalam hati.

"Dimana tempat orang itu?" tanya Yazid.

"Dia sekarang sedang mabuk-mabukkan di tempat ini," ujar lelaki itu seraya menunjuk sebuah tempat.

Maka melangkahlah kaki Yazid menemui orang yang disebutkan itu. Benar juga, di tempat itu ia melihat 40 orang laki-laki sedang mabuk-mabukkan minum khamr, sementara orang yang dicarinya itu tampak duduk diantara mereka.

Begitu melihat kenyataan yang kontras dari apa yang disangkanya sebelumnya, Abu Yazid Al Busthomi cepat membalikkan kaki hendak meninggalkan mereka. Ia merasa kesal dan putus asa. Tetapi seseorang memanggilnya.

"Hai Abu Yazid, mengapa engkau tidak jadi masuk rumah ini. Bukankah engkau jauh-jauh datang kemari hanya karena ingin bertemu denganku? Katanya engkau mencari seorang tetanggamu di surga kelak?" ujar lelaki itu.

Mendengar ucapan orang itu, hati Abu Yazid jadi masygul. Ia tak habis pikir bagaimana orang itu bisa mengetahui maksud kedatangannya, padahal ia belum menyampaikan isi hatinya.

"Engkau begitu cepat meninggalkan rumah ini tanpa mengucapkan salam, tanpa perjumpaan dan nasehat," kata orang itu lagi yang membuat hati Abu Yazid jadi semakin tak mengerti dengan apa yang terjadi.

Dalam keadaan hati yang galau, Abu Yazid mulutnya seakan terkunci, tetapi ada pergulatan di dalam hatinya.

"Sudahlah Abu Yazid, kau tak perlu banyak berfikir dan merasa heran. Yang menyuruhmu datang kemari telah memberitahukan kedatanganmu kepadaku. Ayo, masuklah ke rumahku, duduklah barang sesaat," ajak orang itu.

Dengan sedikit ragu Abu Yazid menurutinya masuk ke rumah dan duduk diantara mereka yang sedang mabuk-mabukkan itu.

"Hai Abu Yazid, masuk surga jangan cuma ingin enaknya sendiri. Itu bukan sifat utama dan mulia dari seorang lelaki sepertimu. Dulu ada 80 orang fasiq yang suka mabuk-mabukkan seperti apa yang engkau lihat saat ini. Kemudian aku berusaha membiarkan mereka agar bisa menjadi teman dan tetanggaku kelak di surga. Yang 40 sudah berhasil berhenti dari kefasikan dan kini tinggal 40 orang . Inilah tugasmu membinanya untuk bertaubat agar bisa menjadi tetanggamu kelak di surga, " tegas orang itu.

Kepada 40 orang yang tengah mabuk-mabukkan itu, lelaki itu kemudian memperkenalkan bahwa orang datang itu adalah Abu Yazd Al Busthomi. Dia adalah sahabat mereka yang akan mengajak mereka bersama-sama menjadi penghuni surga. Dengan dakwah dan pembinaan khusus akhirnya 40 orang itu sadar dan bertaubat. Mereka itulah tetangga Abu Yazid di surga kelak.

Contekan Buku : "Dongeng Anak Muslim" karangan MB Rahimsyah (baru beli di kopaja P20, 3000 perak, boljug deh!)

Aku Sang Pendosa

Belakangan ini aku dihinggapi rasa bersalah pada semua orang. Egoku tak terbendung, hingga bertemu pada satu titik, “Betapa jahatnya aku ini”. Kedekatan dengan orang-orang tercinta seperti permainan yang harus dihitung dengan ukuran matematika. Lidah tajam bak belati, mematikan sendi urat nadi manusia. Inilah aku, sang pendosa.

Subang, 22 Mei 2005
Sebentar lagi usiaku genap 33 tahun, sendiri dan hanya bersahabat dengan sepi. Klise banget! Tetap melajang di usia kepala tiga lebih ini bukanlah sesuatu yang buruk. Mungkin saja Tuhan ingin menempatkanku di tempat paling indah di syurga, agar semasa hidupku bisa selalu berbakti pada keluarga, terutama ibu. Bukankah setelah memiliki keluarga sendiri, langkah kita khususnya perempuan, sangat terbatas untuk meringankan beban orang tua. Banyak kejadian melingkari kehidupan perempuan yang sudah berkeluarga, tak berani mengambil keputusan, antara lain harus sembunyi-sembunyi menyisihkan uang belanja untuk mengirim uang pada ibu atau biaya sekolah adiknya di kampung.

Ibu sering mengatakan, “Jangan ceritakan dulu sakit ibu ini pada kakak-kakakmu yang sudah berkeluarga.” Heks….! Begitu pekanya rasa seorang ibu yang tidak ingin merepotkan anak-anaknya. Kadang tercetus dalam pikirku, betapa istimewanya mereka yang sudah menikah. Mereka hidup di dunia lain dan tak terjamah. Mereka sepertinya mengerti persoalan orangtua, tapi mengapa saat melakukan kunjungan sebulan, dua bulan atau bahkan setahun sekali, mereka hanya bisa berharap, “Ibu, dapatkan ibu mengerti kesulitan kami setelah berkeluarga?”

Astagfirullahal’adzim, itulah matematika berpikirku. “Ya, Allah…jadikan hamba muslimah yang ikhlas.” Jangankan menjadi muslimah yang shalehah, menjalani tahapan ikhlas rasanya aku tak layak. Lalu, bagaimana mungkin menempati taman terindah yang dijanjikan-Nya bagi mereka yang beriman dan bertakwa pada Allah SWT. (kadang aku membayangkan menjadi bidadari syurga di sana…..:P)

Hari ini aku berada dekat dengan ibu. Aku perhatikan ibu yang sedang asyik berendam di pemandian air hangat Ciater, seperti anak kecil yang menemukan tempat bermain. Ada beberapa orang tua seusia Ibu yang turut berkecipak-kecipak di air, merasakan hangatnya air sungai yan tak berhenti mengalir. Pagi yang indah, masyarakat sekitar yang ramah.

Tak terasa dua jam aku menunggu ibu berendam. Saat itu aku tak berani turun ke air, karena tidak membawa pakaian ganti. Karena memang niatnya hanya ingin membawa ibu ke Ciater, mungkin saja dengan begitu penyakit rematik ibu bisa membaik. Setelah itu, kami pun makan di sebuah resto sederhana yang harganya tidak sederhana. Bayangkan saja, untuk semangkuk sayur asem yang rasanya manissss berbau terasi pekat harganya Rp 4000. Total makanan yang harus dibayar sekitar Rp 30.000 untuk semangkuk sayur sop, sayur asem, sambalan beserta lalapan, tahu dan tempe goreng.

Sesampainya di rumah, ibu mengatakan pegal-pegal di badan khususnya pundak agak enak, nafas pun tidak tersengal lagi (sebelumnya ibu pernah menjalani perawatan penyakit paru/TB selama enam bulan). Ibu pun tak kalah serunya bercerita pada teman-teman pengajian dan tetangga, betapa asyiknya berendam di Ciater. Seraya wanti-wanti, “Kalau ke sana lagi, bawa bekal makanan dari rumah, makanan di sana mahal-mahal. Harga ini aja bla…bla…bla…”

Aku bersyukur, kesehatan ibu sepertinya membaik. Nafsu makannya pun bertambah. Malam yang belakangan ini tidak bisa dilalui dengan tidur nyenyak karena ada “jerit tengah malam” yang memikul perih pada dengkul kaki ibu kali ini bisa dilewati dengan aman. Oleh karena itu, paginya aku ajak ibu jalan-jalan pagi menyusuri trotoar menuju ke pasar.

Udara pagi memang menyehatkan. Apalagi kota Subang begitu bersih, jalur kendaraan yang lalu lalang tidak begitu banyak. Keramaian cukup terlihat saat-saat menjelang Hari Raya saja, karena jalur kendaraan bus antar kota yang melewati rumahku menjadi jalur alternatif pantura. Itu pun hanya malam hari. Pengendara angkutan umum, sepeda motor, becak, di pusat kota ini memang sangat tertib lalu lintas.

Pulang dari pasar dengan tetap berjalan kaki, ibu merasa lebih segar. Sempat berpikir pula, lain kali harus lebih banyak olahraga jalan kaki biar sehat dengan mengajak teman-teman dekat rumah. Sore harinya menjelang magrib, aku merasa aneh mengapa ibu tidur-tiduran saja di tempat tidur. Aku raba dahinya, terasa panas…tangannya…. Astagfirullah … apa aku terlalu memaksakan kehendak agar ibu rajin olahraga pagi. Sekujur badan ibu panas dan nyeri di persendiannya pun makin menjadi.

Ibu terdiam lemah, sesekali melenguh kesakitan merasakan nyeri yang berpindah-pindah tempat di tulang punggung belakang, pinggul dan kaki. Sementara nyeri di dengkul yang biasanya mengganggu tidur ibu tiap tengah malam, saat itu tidak lagi. “Mungkin ini proses dari pengobatan Ciater,” cetus ibu mencoba menghapus kekhawatiranku. Saat itu hanya ada kakak pertama dan aku yang berada di dekat ibu. Aku tak berdaya melihat ibu. Berkali-kali aku merutuk diri sendiri, kenapa…kenapa…aku membawa ibu ke Ciater, selagi belum sehat diteruskan jalan-jalan pagi…kenapa??!

Ciputat, 28 Mei 2005
Inginnya berlama-lama menemani ibu di Subang. Sayangnya, Kamis (26/5) ada liputan di Puskesmas Kelurahan Bukit Duri, Jaksel. Jadi, Senin (24/5) aku pulang untuk mempersiapkan rencana kerja di minggu-minggu berikutnya. Sebenarnya minggu-minggu ini bukanlah minggu yang sibuk, karena majalah sudah naik cetak dan aku bisa “membolos” kapan pun aku mau. Tau sendirilah cara kerja wartawan majalah yang terbit bulanan, apalagi bukan majalah komersil yang diminati banyak orang. Datang ke kantor cuma setor satu atau dua naskah untuk majalah atau untuk majalah on line.

“Rahma, besok ibu harus ke dokter rumah sakit Ciereng. Harus cek, apa benar ibu terkena asam urat,” cetus ibu di telepon pada Kamis (26/5) sepulangnya dari Puskesmas. Saat itu, ibu mungkin lupa bahwa hari ini ulang tahunku. Tak mengapa, karena aku tahu ibu lebih mengingat hari ulangtahunku pada hari bersejarah kelahiran Nabi Muhammad, khususnya pada malam-malam ke 13 – 14 di bulan Rabi'ul Awal, saat purnama bersinar indah.

Esok harinya, ibu telepon ke hp dengan nada resah. “Rahma, kata dokter ibu terkena osteo…apa tuh yang bikin tulang ibu keropos. Tiap minggu harus cek ke rumah sakit.” Ibu terkena osteoporosis, penyakit yang banyak dialami perempuan pasca menopause, sampai saat ini belum ditemukan obatnya. Lalu, aku sarankan ibu untuk banyak minum susu jangan sehari sekali, minimal dua kali sehari dan rajin berjemur di pagi hari sebelum jam 9. Sayangnya untuk mengkonsumsi sayur-sayuran yang banyak mengandung vitamin D seperti pada sawi, kerap terjadi komplikasi pada rematik dan asam uratnya. Ditambah di rumah tidak ada pembantu, semua harus ibu yang mengerjakan.

Setelah itu, aku pun berunding pada dua kakak perempuan dan adik yang ada di Jakarta. Kakak kedua (sudah berkeluarga) menganjurkan membawa ibu tinggal di Bekasi, dia siap menyediakan rumah kontrakan untuk ditempati aku, ibu, saudaraku yang lain. Kakak ketiga (tinggal seatap denganku dan masih sama melajang), mengusulkan nyari pembantu untuk merawat ibu. sedang si bungsu menyarankan, jual rumah di Subang cari rumah di Bekasi.

Banyak pertimbangan. Aku tahu semuanya baik, tapi ibu pasti punya jawaban sendiri. “Udah…nggak apa-apa ibu bisa pergi ke dokter sendiri, masak makanan sendiri atau beli yang sudah matang,” ujar Ibu menampik niat baik anak-anaknya untuk tinggal di rumah kontrakan.

Aku sudah tau jawaban ibu akan seperti itu. Ibu tidak bisa meninggalkan Kakak pertama dalam waktu lebih dari tiga hari. Seandainya kakak pertama diajak pun, tidak bisa sembarang tinggal di suatu tempat. Situasinya harus tenang, tidak ada konflik yang bisa memicu syarafnya. Rumah di Subang sudah berhasil membentuk kejiwaan kakak menjadi pribadi yang lebih baik, sedikit mandiri dan berpikiran jernih.

Akhirnya aku putuskan, biarlah pada bulan-bulan ke depan aku akan lebih sering berada di Subang untuk merawat ibu, menemaninya ngobrol. Libur Sabtu-Minggu, bisa kuhabiskan di Subang. Berbagai rencana dan kekhawatiran akan penyakit ibu, membuat emosi tak terkontrol saat berada di rumah melakukan rutinitas pagi.

Sabtu (28/5) pagi, entah mengapa emosiku begitu labil. Mungkin juga bawaan perempuan yang sedang datang bulan di hari pertama jadi mudah terpancing emosi. Atau mungkin kadar keikhlasan masih di bawah nol persen. Hari itu aku masak cah kangkung jagung, ayam goreng, emping plus sambal. Nah, saat mau meletakkan cowet sambal ke meja, aku kaget ternyata di bawah cowet ada sebungkus gula pasir yang sudah terbuka dan isinya tercecer ke rak sepatu.

Nggak jelas datangnya angin ribut dari mana, aku marah-marah pada adik. “bla…bla… kalau numpang harus tau diri dong..bla..bla..” Saat itu, aku tidak mau mendengar pembelaan adik, yang aku tahu pendapatku harus didengar.
Beberapa menit kemudian, aku sadar ucapan ini terlalu kasar. Tapi parahnya, aku bukan orang yang mudah meminta ma’af dalam bahasa lisan. Aku tak sengaja mengatakan hal ini, lidah memang lebih tajam daripada pisau. Setelah itu, aku lihat adik terduduk saja di kamar, tak banyak bicara. Hari ini yang seharusnya aku ada janji dengan teman, rencananya ingin aku batalkan. Karena tak ingin terjadi apa-apa dengan adik akibat perkataan yang terlontar tak sengaja.

Istigfar beberapa kali tetap tak bisa mengucap secara lisan pada adik tentang kebodohanku ini. Akhirnya, aku memutuskan untuk menepati janji bertemu dengan seorang teman dengan pikiran menerawang ke rumah. Pulang kembali ke rumah, tetap aku merasa bersalah dan lidah kaku berujar kata ma’af.

“Ma’afkan aku sang pendosa. Aku menyayangi kalian semua tanpa pernah berharap imbal jasa.”

"Robb.....masih layakkah aroma surga untukku?"

Monday, May 30, 2005

JANGAN JEMU BERDOA

Jika kita memohon tibanya cahaya siang pada saat kian memekatnya kegelapan malam, maka penantian kita akan lama, karena ketika itu kepekatan akan meningkat hingga tibanya fajar. Tetapi yakinlah bahwa fajar pasti menyingsing baik kita menghendaki atau tidak, jika kita menghendaki kembalinya malam pada saat itu, maka doa kita tidak akan dikabulkan karena kita meminta sesuatu yang tak layak dan kita akan dibiarkannya meratap, lunglai, jemu dan enggan. Tetapi kita salah bila jemu berdoa.

Diterima dari Aisyah r.a bahwa Rasulullah SAW bersabda : "Tidak mempan sikap hati-hati terhadap takdir, sedang doa itu akan memberi manfaat, baik terhadap hal-hal yang telah terjadi maupun yang belum terjadi. Dan sungguh, bala atau malapetaka itu turun , lalu disambut doa, maka bergulatlah keduanya sampai hari kiamat"(diriwayatkan oleh Bazzar dan Tabrani, juga oleh Hakim yg menyatakan isnadnya sah)

Diterima dari Salman Al farisi bahwa Rasulullah saw bersabda : "Tidak dapat menolak qadha kecuali doa, dan tidak bisa menambah umur kecuali kebaikan" (riwayat Turmudzi yg menyatakan sbg hadits hasan lagi gharib)

Diriwayatkan oleh Abu 'Uwanah dan Ibnu Hibban bahwa Rasulullah saw bersabda : "Jika salah seorang di antaramu berdoa , hendaklah ia menunjukkan besarnya keinginan buat memperolehnya, karena tidak satupun yang dianggap besar oleh Allah"

Bagaimana adab atau berdoa yang baik ?

1.Mencari yang halal
Diriwayatkan oleh hafizh bin Mardawaih dari Ibnu Abbas , "Saya membaca ayat ini dihadapan Nabi saw :"Hai manusia, makanlah barang halal lagi baik yang terdapat di muka bumi". Tiba-tiba berdirilah Sa'ad bin Abi Waqqash , lalu katanya "Ya Rasulullah! tolong anda doakan kepada Allah agar saya dijadikan orang yang selalu dikabulkan doanya". Ujar Nabi, "Hai, Sa'ad! Jagalah soal makananmu, tentu engkau akan menjadi orang yang makbul doanya! Demi Allah yang nyawa Muhammad berada dalam genggamanNya!Jika seorang laki-laki memasukkan sesuap makanan yang haram ke dalam perutnya, maka tidak akan diterima doanya selama 40 hari, dan barang siapa juga hamba yang dagingnya tumbuh dari makanan haram atau riba, maka neraka lebih layak untuk melayaninya"

2. Menghadap kiblat
Nabi saw pergi keluar buat shalat istiqo' minta hujan, maka beliau berdoa dan memohonkan turunnya hujan sambil menghadap kiblat

3. Memperhatikan saat-saat yang tepat dan suasana utama.
Seperti hari arafah, bulan ramdhan, hari jumat, pertiga terkahir malam, waktu sahur, ketika sedang sujud, ketika turun hujan, antara adzan dan iqomah, saat mulai pertempuran, ketika dalam ketakutan atau sedang beriba hati.

Diterima dari Abu Umamah : ""Seseorang bertanya 'Ya RAsulullah, doa manakah yang lebih didengar Allah ?' Ujar nabi 'Doa ditengah tengah akhir malam dan selesai shalat fardhu'"

Diterima dari Abu Hurairah bahwa Nabi saw bersabda :"Jarak yang paling dekat diantara hamba dan Tuhannya ialah ketika ia sedang sujud.maka perbanyaklah doa ketika itu, karena besar kemungkinan akan dikabulkan"

4. Memulainya deng memuji Allah, memuliakan dan menyanjung Nya seta memuliakan- mengucapkan shalawat nabi

5. Memusatkan perhatian, menyatakan kerendahan diri serta ketergantungan kepada Allah Yang Maha Mulia serta menyederhanakan tinggi suara, antara bisik-bisik dan jahar.

"Dan janganlah kamu keraskan suaramu waktu berdoa, jangan berbisik bisik dengan suara halus, tetapi tempuhlah jalan tengah diantara keduanya"(Al Isra :110)

"Bermohonlah kepada Tuhanmu dengan merendahkan diri dan tidak mengeraskan suara.Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melewati batas"(Al A'raf :55)

6. Hendaklah doa itu tidak mengandung dosa atau memutuskan tali silaturahim

Berdasarkan hadits yg diriwayatkan oleh Ahmad dari Abu Said khudri bahwa nabi saw bersabda :"Tidak seorangpun yang berdoa kepada Allah 'azza wajalla , sedang doanya tidak mengandung dosa atau bermaksud hendak memutuskan silaturahim, kecuali akan diberi Allah salah satu diantara 3 perkara : pertama akan dikabulkanNya doa itu dengan segera, kedua, adakalanya ditangguhkanNya untuk menjadi simpanan di akhirat kelak, ketiga, mungkin dengan menghindarkan orang itu dari bahaya yang sebanding dengan apa yang dimintanya. Tanya mereka 'Bagaimana kalau kami banyak berdoa ?'Ujar nabi 'Allah akan lebih memperbanyak lagi' "

7. Tidak menganggapnya lambat akan dikabulkan Allah

Berdasarkan hadits yg diriwayatkan oleh Malik dari Abu hurairah bahwa Nabi saw bersabda : "Tentu doa seseorang akan dikabulkan Allah, selama orang itu tidak gegabah mengatakan'saya telah berdoa, tetapi doa saya tidak juga dikabulkan Allah'"

8.Berdoa dengan keinginan yang pasti agar dikabulkan

Berdasarkan hadits yg diriwayatkan oleh Abu dawud dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda : "Janganlah seseorang diantaramu mengatakan'Ya Allah ampunilah aku jika Engkau menginginkannya, Ya Allah , berilah rahmat padaku jika Engkau mengingininya. Dengan Tujuan untuk memperkuat permohonannya itu, karena Allah Ta'ala , tak seorangpun yang dapat memaksaNya'

9. Memilih kalimat-kalimat yang mencakup makna yang luas

Dalam Sunan Ibnu Majah terdapat "bahwa seorang laki2 datang menemui rasulullah saw, lalu bertanya “Ya Rasulullah , manakah doa yang lebih utama?' Ujar Nabi 'Mohonkanlah kepada Tuhanmu kemaafan dan keselamatan baik di dunia dan akhirat”

Juga terdapat "Tidak ada doapun yang diucapkan oleh hamba , yang lebih utama dari 'Ya Allah , saya memohon kepadaMu keselamatan baik di dunia maupun di akhirat"

10. Menghindari yang tak baik terhadap diri sendiri, keluarga dan harta benda sendiri

Diterima dari jabir bahwa rasulullah saw bersabda : "Jangalah kamu berdoa buruk terhadap dirimu, begitupun terhadap anak-anakmu, terhadap pelayan-pelayan dan harta bendamu. jangan sampai nanti doamu itu bertepatan dengan suara saat dimana Allah bisa memenuhi permohonan, hingga doa burukmu itu akan benar-benar terkabul

11.Mengulangi doa sampa tiga kali

Diterima dari Abdullah bin Mas'ud : "Bahwa rasulullah senang sekali berdoa dan istighfar tiga kali"

12. Agar mulai dengan diri pribadi bila berdoa buat orang lain
Firman Allah ta'ala :""Ya Tuhan kami!berilah keampunan bagi kami, dan bagi saudara-saudara kami yang telah lebih dulu beriman daripada kami"(Al Hasyr : 10)

Diterima dari Ubai bin Ka'ab , katanya :"Bila Rasulullah saw teringat akan seseorang lalu mendoakannya maka lebih dulu dimulainya dengan dirinya sendiri"


Rangkuman KAMUS IMB (lupa tanggalnya)