BAGAI CEMARA DENGAN BAYANGANNYA
BAGAI CEMARA DENGAN BAYANGANNYA
Bagaimana cara menilai dalamnya hati seseorang?
Ini pertanyaan yang teramat sulit dijawab. Bahkan mungkin tak bisa dijawab sama sekali. Susah. Isi hati seseorang kadang-kadang, bahkan tak seperti apa yang tampak di depan mata. Kita cuma bisa membuat serangkaian praduga. Dan, tak jemu-jemunya kita menyusun praduga demi praduga, walau diujungnya kita tahu pasti, kita sama sekali salah.
Sesorang bersahabat dengan seseorang lainnya. Bukankah wajar bila ia amat care pada sahabatnya? Bukankah pantas bila ia membagi cerita suka dan dukanya pada sahabatnya? Lalu mengapa mesti menduga ada ‘udang dibalik bakwan’?
Seorang laki-laki memilih seorang permpuan karena pada pandangan pertama, perempuan itu mnyenangkan dilihat. Soal baik-tidak akhlaknya, laki-laki itu menjawab, itu urusan nanti. Bukankah dalamnya hati tak dapat diduga?
Lalu, bila laki-laki tadi adalah sahabat si orang dalam kasus pertama, bagaimana?
Ya, si A (perempuan) bersahabat dengan B. A bersikap baik kepada B karena merasa B sahabatnya. Tapi B malah ‘menjauh’ dari A, dengan alasan takut ada udang di balik batu. Saya lalu bertanya pada B, bila seandainya benar, memangnya kenapa? Sepontan B menjawab, “Lha… kalau A itu tipe saya sih, nggak apa-apa.” Tipe yang bagaimana? B ketawa, lalu katanya,”Bagi saya cantik itu penting.”
Masya Allah, kuping saya serasa terbakar mendengarnya. Jadi sepertinya, ada ‘teori baru’ versi B. dalam prasangka atau praduganya, ia merasa A mengkhianati persahabatan. Tapi ada perkecualian, bila ‘performance’ A bagus, pengkhianatan dibolehkan (bahkan boleh jadi diaharapkan). Alangkah anehnya.
Dan kembali saya teringat A, sahabat saya yang sangat baik hati tapi juga ‘sangat malang’ itu. Dengan B, berarti sudah kesekian puluh kalinya A ‘tertolak’ bahkan dalam uluran persahabatan.
Sungguh bukan inginnya A bila ia diciptakan tidak cantik dan berpenyakit. Tapi allah itu Maha Adil, diberikannya kelebihan berupa sifat-sifat supel, suka menolong, perhatian dan A itu cerdas, lho. Satu hal lagi, A tulus hati dan cepat memaafkan. Saking tulusnya, kadang-kadang ia tidak merasa bahwa ia sedang ‘dimanfaatkan’ orang lain, bahkan sahabatnya-sahabatnya sendiri.
Di depan mata, saya menyaksikan A ‘tertolak’. Satu demi satu orang, bahkan ‘sahabat-sahabat’ perempuannya yang ternyata sudah selesai keperluan dengan A, pergi meninggalkannya sendirian.
A yang pemaaf cuma terdiam saat emailnya untuk sahabatnya ditolak, saat dibantingi telpon oleh sahabatnya yang lain, saat sahabatnya yang lain menolak bicara ketika ditelepon, saat dihina di depan orang banyak, saat dibentak oleh sahabat perempuannya di depan orang banyak. Lalu A menyisakan semua suka dukanya dalam diam, dalam tangis yang saya pun tak boleh tahu. Saya belum pernah melihat orang setabah itu. Subhanallah.
Saya lalu ingat kisah gadis penjual korek api. Ia sibuk menjajakan korek api untuk menghangatkan orang lain, tapi ia sendiri mati kdinginan di tengah hujan badai salju. Sendirian. Demi Tuhan, saya tidak rela sahabat saya itu ‘mati’ sendirian.
Belum lagi saya sempat menolongnya, ia pergi. Jauh. Ia memutuskan untuk melanjutkan S2 nya ke luar negeri. Tiada teman dan sahabat yang tahu. Ia pergi meninggalkan semua luka-lukanya. Entah untuk berapa lama.
Bertahun kemudian, beberapa sahabatnya baru menyadari bahwa mereka menolak mutiara. Mereka kehilangan dan bertanya-tanya. Lalu anehnya, lagi-lagi mereka membuat praduga-praduga, “Si A kabur gara-gara patah hati.” Lalu, “Iya, keenam adiknya sudah pada menikah. Tinggal dia yang belum. Mungkin ia putus asa.”
Atau, “Untung dulu aku nggak jadi suaminya. Ngapain capek-capek nikah kalau ditinggal juga ke luar negeri?”
“Apa sih dicari? Perempuan kok ambisius?”
“Mana ada laki-laki yang mau sama dia kalau begitu?
“Iya, lagipula ia pasti pilih-pilih.”
Masya Allah, itukah yang namanya sahabat? Mengapa justru dari mulut mereka keluar “kalimat manis” seperti itu? Andaikan dapat, ingin kuteriaki pada mereka, bahwa mereka sama sekali salah menilai.
Lama-lama aku pun jadi berpraduga pada mereka. Apakah mereka yang berhati kerdil sheingga tak mampu melihat kilauan mutiara? Ataukah memang sekarang ini, orang-orang tak butuh lagi ketulusan?
Bagaimana mungkin kita bisa menerka baying-bayang? Bagaimana mungkin, apalah lagi bila kita tak pandai menghitung jarak? (kata orang, semakin dekat kita dengan seseorang, makin susah kita menilai dengan objektif). Atau….kita memang tak perlu punya sahabat?
“Berdirilah sama tegak, tapi jangan terlalu rapat. Bukankah cemara tidak tumbuh dalam baying-bayangnya sendiri?” (Kahlil Gibran)
Cuplikan buku, “Berbagi Bening Cinta” karya Ifa Avianty
1 Comments:
Assalamu'alaikum,
Sahabat, sebuah cerita/pengalaman yang kita ketahui tidak mencerminkan keseluruhan/keutuhan cerita yang yang ada.
Menurut saya, kecocokan bukan dinilai + (plus) atoe - (minus) pribadi/jasmani seseorang. Saya lebih menggunakan teori puzzle dalam hal kecocokan, meskipun bidang tepinya cocok, klo gambarnya ngga nyambung khan lucu klo dipasang, apalagi klo bidang tepinya dengan gambar yang ngga cocok pula.
Secara simbolisnya begini;
0 mewakili bidang tepi
1 mewakili gambar
= ada kecocokan
x tidak ada kecocokan
bidang tepi = mewakili pembawaan/perkataan dan tingkah laku seseorang
gambar = mewakili akhlak dan pembawaan (pribadi) seseorang (anda menyebutnya hati/qolbu)
A B
--- = ---
0 0
1 1
0 1
1 0
saya hanya menganalisa ma (besok dilanjut)
By
P'loose Forever, at 10:51 PM
Post a Comment
<< Home