HUJAN HARI INI
Usai Ramadhan, nafasnya masih membahana di tiap sudut ruang. Namun tak kudapati keghaiban kalbu yang biasa menuntunku tuk berpikir terang. Bukan apa-apa, kalo Ramadhan datang, biasanya ada jiwa latah yang ikut-ikutan mengaji tiap selesai shalat, atau bangun tengah malam untuk berdialog dengan sang pencipta. Apakah masa-masa itu benar akan raib begitu saja seiring bertambahnya hitungan hari, memupus harapan bertemu malam lailatul qodar berganti Syawal, bulan suka-cita, bulan kemenangan. Benarkah ini bulan kemenangan?
Hujan menyeringai lewat kaca jendela. "Peduli apa aku dengan kemenangan," cetus hujan (mungkin). Yups, mengapa hujan tidak datang saat kami sedang berlapar-lapar dan haus menahan sengatan sinar matahari. Jiwa yang haus dan lapar kini tersiram air hujan. Bening, bila tersiram langsung dari langit. Keruh, saat air hujan jatuh di tempat yang salah, bahkan menjadi bah manakala tersimpan dalam kubangan sampah.
Duh....adakah jiwa-jiwa yang pernah menaruh harapan di Ramadhan lalu sama merasakan, air hujan hari ini adalah cemoohon untuk kita di hari kemarin??
Mungkin juga tidak.
0 Comments:
Post a Comment
<< Home