serunai impian

Monday, December 06, 2004

IBRAH 2

Ciputat,5 Desember 2004

Tak pernah terpikir bakal mencari barang berharga diantara timbunan sampah basah dengan bau menyengat. Sesuatu yang mustahil kutemukan, ternyata bisa kembali. Subhanallah….Allah ternyata sayang banget sama aku.

Pulang dari undangan pernikahan anak ibu asrama semasa di PGA kemarin, tiba di depan rumah aku kaget melihat isi tempat sampah kosong. Padahal sebelum berangkat dengan “kehati-hatian” aku letakkan sandal-sandal di dalam tempat sampah berbentuk kawat berjaring itu dan kuselipkan kunci rumah diantara tumpukkan sandal. Karena waktu sudah menunjukka pukul 2 sore, aku pikir tukang sampah hari minggu ini tidak bakal mengangkut sampah, jadi aku letakkan pula keresek atau kantong pelastik yang berisi sampah rumah diatas sandal-sandal dalam tempat sampah.

Biasanya, keresek sampah itu aku ikatkan di pagar rumah mengikuti tradisi tetangga sebelah, agar tukang sampah tidak perlu masuk ke dalam rumah. Tetapi kali ini keresek sampah ini aku letakkan di atas tempat sampah yang berisi sandal-sandal dan kunci rumah. Memang tak salah. Kemudian, tempat sampah itu kuletakkan di pojok teras. Aku tinggalkan kunci, karena khawatir pulang agak malam sementara kakak perempuanku lupa membawa kunci sewaktu keluar rumah.

Selama dalam perjalanan bertemu teman-teman lama, berkangen-kangenan tentunya, nggak pernah terpikir kalau setibanya di rumah aku hanya bisa terduduk lemas melihat tempat sampah itu telah kosong….

“Sial, kenapa sih tukang sampah berani-beraninya mengambil sampah di dalam. Nggak tau apa kalau barang-barang yang ada di dalam itu masih bagus, masih bisa dipakai. Nggak tau apa kalau di dalamnya ada kun….” Beribu caci maki gak sadar aku tujukan kepada tukang sampah yang jadual angkutnya memang susah ditebak.

Dengan langkah gontai aku keluar mencari informasi di mana rumah tukang sampah itu tinggal. Rumah tukang sampah itu ternyata di sebuah rumah petak tidak jauh dari rumahku. Rumah kecil dan tampak kurang terawat itu masih dipenuhi timbunan sampah hasil ‘razia’nya setiap hari. Saat aku datang pukul 17.00 itu, gerobak sampah yang diambil siang hari sebagian sudah dibakar dan sebagian masih mengendap, sementara barang yang dianggap masih laik pakai sepertinya sudah dipisah-pisahkan. Aku lihat sandal ku ada di luar.

“Assalammu’alaikum…Bang Muslihnya ada?” Aku bertanya pada seorang ibu yang sedang membuat anyaman sumbu kompor yang kupastikan ini rumah tukang sampah yang namanya baru aku tahu detik itu juga. Mendengar namanya disebut, tak lama muncul lelaki setengah baya dengan memakai celana kolor warna abu-abu.

“Ada apa neng..?” cetusnya. Bla…bla..bla.. aku ceritakan kalau aku nggak bisa masuk rumah karena kuncinya terbawa diantara tumpukan sampah. Tanpa ba-bi-bu lagi, Bang Muslih lalu mengorek-ngorek sampah basah dengan tangannya tanpa alas sama sekali. Mencoba mengenali dimana barang-barang bekasku yang masih ada di gerobak sampah, setengah jam mencari kunci, aku hanya mempunyai harapan tipis. Kecil kemungkinan sebuah kunci akan bisa ditemukan. Bagaimana kalau kunci itu sudah dibuang di tempat lain? Bagaimana kalau kunci itu ternyata jatuh di jalan? Bagaimana kalau kunci itu tidak bisa terlihat karena bentuknya yang kecil? Bagaimana kalau….

Bagaimana dan bagaimana terus bergelayut dalam pikiranku. Bukan membantu Bang Muslih mengorek sampah, aku malah ngeloyor pergi. “Udah deh Bang…sepertinya susah nemu kunci di tumpukan sampah basah ini,” ujarku seraya mohon pamit.

“Ya pulang dulu aja, nanti saya cari pasti ketemu,” cetus Bang Muslih yakin.

Ucapan seorang tukang sampah ternyata ada benarnya juga. Tepat adzan magrib, Bang Muslih datang ke rumah teman dimana aku tinggal sementara menunggu adik yang janji datang membawa kunci cadangan. “Assalammu’alaikum… tadi saya lihat di rumah neng ini tidak ada, jadi saya pikir pasti ada disini. Ini kuncinya ketemu,” ucap Bang Muslih dengan wajah lugunya.

Subhanallah….tahukah dia.. sebelum dia datang kami sempat bersu’udzhon, tapi setelah dia menemukan kunci itu pandangan kami berubah. “Ternyata Bang Muslih itu tukang sampah yang jujur ya..” cetus teman-temanku.

“Terimakasih Bang Muslih,” ucapku seraya memanjatkan puji syukur pada Tuhan dan memohon ampun karena telah terseret dalam prasangka yang tak tentu arah.

Dalam perjalanan pulang menuju rumah, membuka kunci dengan rasa haru, aku seperti diingatkan kembali bahwa nasibku selalu jauh lebih baik dari orang lain. Ketika berteduh di rumah teman tadi, aku mendengar keluhan teman yang baru saja kecopetan di kereta. Sementara, aku belum pernah kecopetan dengan uang sebanyak itu. Uangnya hilang tak kembali, tapi kunciku hilang bisa kembali. Begitu pula ketika handpone dan cincin emas putihku hilang, semua bisa kembali dengan kuasa-Nya.

Ya Allah….aku tersungkur di atas sajadah ini. Ternyata Engkau begitu mencintaiku, sementara aku dengan sengaja telah menciptakan jurang kedekatan dengan-Mu. Ampuni hamba-Mu yang sombong, yang mudah lelah dan lalai untuk berlama-lama dekat dengan-Mu. Ampuni hamba yang ingkar dengan segala janji untuk selalu bisa berdua dengan-Mu. Teguhkan iman hamba meraih bahagia, meraih ridha-Mu.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home