serunai impian

Monday, February 28, 2005

Kesaksiaan Sebatang Pohon Kelapa

Perempuan setengah baya itu bernama Inong. Ia masih berdiri terpaku diatas sebidang hamparan tanah. Matanya berkaca-kaca menatap serpihan papan kayu dan puing-puing tembok yang berserakan bercampur lumpur. Sesekali, pandangannya menerawang jauh tak terhalang apa pun, dari bibir pantai hingga ke laut lepas.

Kini memang sudah tidak ada lagi satu bangunan pun yang menjadi penyekat antara tempat ia berdiri dan bibir pantai. Ia berdiri termenung di atas tanah yang dulunya pernah berdiri sebuah rumah miliknya yang kini hancur menjadi rata dengan tanah, akibat musibah gempa dan gelombang air bah yang melanda kampungnya.

Setelah puas berlama-lama ia pun kembali pulang ke tenda-tenda pengungsian bagi kaum pendatang dari luar kota untuk menolong warga kota yang terkena musibah. Ingatannya kembali ke minggu pagi itu di saat ia masih bisa bercengkrama dengan suami dan kedua anaknya yang masih berusia empat dan tujuh tahun.
********

Minggu pagi langit berwarna biru cerah dengan sinar hangat matahari yang bersemangat. Warga kota menikmati hari minggu pagi itu dengan berjalan-jalan di ruas jalan. Ada yang berolah raga atau bercengkrama dengan sanak saudara atau teman di sejumlah taman-taman kota. Kedai-kedai kopi di deretan pertokoan kota, ramai di kunjungi pengunjung yang ingin menikmati secangkir wangi harum kopi panas. Lalu-lalang kendaran bermotor di jalan-jalan kota menandakan kota sudah bangun dari tidur lelapnya semalam.

Hari itu memang sangatlah cerah. Semua warga kota juga pasti tergiur untuk bergegas ke luar rumah. Menikmati hangat sinar pagi sekaligus melepas lelah dari aktifitas rutin mereka yang di geluti selama seminggu. Tak kalah penting lagi, keamanan kota sudah tentram dari ancaman kelompok bersenjata, yang beberapa bulan lalu sempat meresahkan warga kota.

Waktu itu Inong berpamitan sebentar kepada suaminya, untuk berbelanja ke pasar kota, membeli beberapa kebutuhan dapur. Ia juga sempat berpesan kepada suaminya menyiapkan makanan untuk sarapan pagi kedua anaknya jika mereka sudah bangun dari tidur dan menyuruh bersegera berbersih badan. Karena setelah pulang dari pasar kota nanti, Inong telah berjanji kepada kedua anaknya untuk pergi jalan-jalan ke pasar pujasera dekat rumah, membeli mainan si kecil sekaligus membeli beberapa kebutuhan peralatan sekolah untuk anak pertamanya.

Tengah perjalanan menuju pasar kota, ia merasakan tubuhnya bergoyang. Tanah yang ia pijak terasa bergetar kuat. Getaran tanah beberapakali ia rasakan di sepanjang perjalanan. Inong lalu melihat-lihat keadaan kota yang sebenarnya sedang terjadi. Ia melihat orang-orang di kota berkumpul di ruas-ruas jalan. Beberapa bangunan rumah runtuh dan pasar kota yang ia tuju sebagian sudah hancur berantakan. Tanah beretak-retak di sepanjang jalan. Suasana hirup-pikuk warga kota membuat ia lupa pada niat awal untuk berbelanja kebutuhan pokok.

Tidak sampai waktu lama, getaran kuat yang ia rasakan di sepanjang jalan sudah tidak ia rasakan lagi. Inong melihat dari kejauhan tampak orang-orang berdatangan. Banyak orang berlarian dengan wajah panik. Ia mengira ada kontak senjata yang sering ia lihat di daerah rumahnya. Karena, terkadang kota ini masih sering terjadi pertikaian antara kelompok bersenjata dengan tentara. Orang-orang yang ada di sekitar daerah itu biasanya selalu berhamburan lari menghindar dan bersembunyi di tempat-tempat yang aman karena takut ada peluru nyasar ke tubuh mereka.

Tetapi perkiraan itu terbantahkan. Ia mendengar suara aneh di kejauhan. Seperti mesin pesawat yang meraung-raung. Suara aneh itu semakin dekat terdengar keras bergemuruh. Beberapa orang warga mencoba mendekati asal suara gemuruh itu.

Ia melihat suasana kota menjadi kacau balau. Semua kendaran bermotor berbalik arah menghadap Inong yang sejak tadi berdiri bingung di tepian jalan. Ia mengerti dengan suasana panik warga kota. Labi-labi1 penuh di tumpangi orang. Mobil-mobil pick up mengangkut puluhan orang berwajah ketakutan. Orang-orang berhamburan ditengah jalan raya sambil berteriak-teriak “air bah” berulang-ulang. Mereka berlarian panik, mengikuti orang lain sambil membawa buntalan kain yang berisi pakaian seadanya dan barang-barang lain milik mereka yang mudah untuk di bawa.

Namun, ketika suasana masih hirup-pikuk dan orang-orang masih berjejar di tengah jalan raya kota. Air bah datang dengan tiba-tiba menyerbu kota dan cepat, semakin besar menjadi gelombang ombak setinggi lebih 5 meter. Gelombang itu berwarna hitam pekat menggulung benda-benda yang ada di hadapannya. Tidak terkecuali warga kota yang ada di tengah jalan, cepat tersapu hilang di telan air.

Inong mencoba menyelamatkan dirinya bersama beberapa orang warga kota. Ia berlari panik tidak beraturan. Berusaha mencari tempat yang tinggi untuk menghindar dari amukan gelombang air bah yang cepat menggenangi tubuhnya hingga ke atas pinggang. Saat kepanikan itu, ia melihat sebatang pohon kelapa tidak terlalu tinggi. Berdiri tegak di sisi jalan raya seberang mesjid terbesar di kota. Ia berusaha mendekati dengan langkah tubuh terhanyut oleh arus air. Ia berusaha menggapai. Hingga akhirnya dapat sampai memeluk erat batang pohon kelapa.

Dengan nafas terengah-engah, takut jantungnya berdetak cepat….Inong pasrah dengan ribuan doa keselamatan, meminta perlindungan kepada Allah. Air bah berlumpur hitam pekat semakin tinggi hingga mampu mengangkat tubuh Inong ke dahan-dahan atas pohon kelapa. Ia terus berjuang selamatkan diri.

Sesaat kemudian kepalanya terhantam benda keras hingga empat giginya rontok. Ia tidak perduli rasa kesakitan itu. Memeluk erat batang pohon kelapa adalah hal terpenting untuk dapat bertahan hidup dari amukan air bah.

Inong terus berdoa di hati dan bibirnya. Meminta keselamatan kepada Tuhan agar ia selamat dari mara bahaya yang sedang ia hadapi. Wajah perempuan setengah baya itu pucat pasi ketika melihat ratusan tubuh warga kota terseret dan tergenang oleh arus gelombang, terlempar tak berdaya.

Seperti kapas di tiup angin, ia berteriak-teriak meminta tolong kepada siapa saja yang di lihat. Tidak ada yang bisa menyelamatkan mereka, karena saat itu semua warga kota sibuk menyelamatkan diri masing-masing.

Warga kota yang selamat berada di tempat-tempat tinggi, tidak bisa sama sekali menolong mereka yang terbawa arus gelombang. Mereka pasrah melihat dengan mata berkaca-kaca. Air bah tumpah ruah di kota. Membentuk lautan hitam beriak deras. Langit kota menjadi berkabung bersama suara lirih, menyebut nama tuhan yang bergema di setiap penjuru.

Di seberang tempat Inong sedang berjuang selamatkan diri. Puluhan ribu warga kota berlindung di masjid besar kota. Ada yang bergelantungan menyelamatkan diri di setiap bangunan-bangunan masjid. Mereka berdoa dan takbir diatas ketakutan terjangan gelombang air bah. Menyebut nama Tuhan berulang-ulang bersamaan jerit tangis histeris orang yang sudah kehilangan segala-galanya dalam hidup.

Sudah tidak ada tawa dan canda di minggu pagi itu. Segala perencanaan aktivitas mereka tidak akan bisa lagi terwujud. Semua hilang dan lenyap dalam sekejap di sapu gelombang air laut. Jiwa dan semangat mereka yang saat itu sempat hidup selamat menjadi saksi dari maha petaka, mungkin juga hilang bersama gelombang.

Setelah air mulai surut, Inong perlahan merambat turun melepaskan pelukan erat batang pohon kelapa. Tubuhnya masih gemetar menginjak tanah, setelah menyaksikan peristiwa itu. Wajahnya pucat pasi dengan mata memerah berkaca-kaca. Ia tinggalkan batang pohon kelapa yang telah selamatkan dirinya. Tanpa alas kaki dan pakaian basah kuyup bercampur Lumpur, ia mencoba kembali pulang ke rumah. Inong bersyukur pada Tuhan doanya dikabulkan, selamat dari musibah.

Perasaannya mulai gelisah ketika ingat kedua anaknya yang ditinggalkan di rumah, juga nasib suaminya. Mereka dalam keadaan tidur lelap. Entah apa mereka semua selamat. Ribuan pertanyan itulah yang mengganggu fikirannya selama perjalanan.

Sepanjang jalan ia melihat banyak orang kota yang mati bergeletakan di ruas jalan kota. Terhimpit oleh reruntuhan bangunan, juga ada yang mati tersangkut di atas pohon. Kota itu sepi dan luluh-lantak berserta isinya. Penuh genangan air lumpur, kayu-kayu, rongsokan mobil, perahu dan segala benda yang sangat kotor.

Perempuan setengah baya itu masih berjalan gemetar. Suara histeris terdengar dari orang-orang yang meratapi anaknya mati, orang tuanya mati, istri, suami atau saudaranya yang mati.

Sesekali langkahnya berhenti beristirahat duduk di pinggiran jalan raya bersama orang-orang kota yang sama-sama duduk pasrah di pinggiran jalan trotoar. Pandangannya menerawang lurus tidak ada arti. Memandangi reruntuhan banganan dan toko-toko yang rusak parah. Di samping dan di sekelilingnya. Cerita duka penuhi percakapan dan obrolan warga kota. Bicara mereka terkadang ngawur tidak beraturan di selingi suara isak tangis dan penyesalan. Ada wajah yang tertunduk letih juga ada yang menangis histeris memeluk anaknya sambil memanggil nama anaknya yang saat itu sudah mati kaku berlumuran lumpur.

Inong meneruskan langkah gemetarnya meninggalkan kerumunan orang-orang kota yang berbicara ngawur tidak tentu arah itu. Ia kembali menangis ketika melihat bayi-bayi dan anak-anak kecil bergeletakan di tengah jalan diantara reruntuhan bangunan. Mati tanpa ada yang mengurus. Kota itu menjadi sepi, hanya beberapa warga lalu lalang kebingungan tidak tahu apa yang harus di kerjakan.

Inong kebingungan. Tidak tahu arah kemana lagi untuk menemukan rumahnya. Matanya mencari sesuatu bentuk atau tempat yang dapat ia kenal sebagai tanda pengenal bahwa itu rumahnya. Semua yang ia lewati sudah rusak berantakan rata dengan genangan lumpur berair seperti di kota.

Bangunan rumah berbahan kayu dan bambu yang ia bangun bersama suami dan saudarannya sepuluh tahun yang lalu, kini sudah tidak dapat ia temukan. Satu kilo meter dari arah pesisir pantai kira-kira letak rumahnya. Lokasi itu dipilih suaminya karena dekat dengan laut dan juga dekat dengan pusat kota, agar suaminya lebih mudah pergi melaut dan dekat dengan kota

Inong mulai merasa kedinginan. Pakaian yang di kenakannya masih basah bercampur lumpur. Perasaan putus asa menghantui hati dan fikirannya. Ia tidak menemukan satupun keluarganya atau saudaranya. Ia tidak tahu harus kemana lagi mencari suami dan kedua anaknya. Harta benda yang ia miliki hilang tidak tersisa. Sekarang yang ia lihat hanya hamparan tanah reruntuhan dengan tiupan angin laut yang langsung dari arah pesisir pantai menyapu lembut wajahnya. Seakan tiupan angin itu ingin menenangkan dan menghibur hatinya yang duka. Ia juga sempat bertanya pada beberapa orang di sekitar reruntuhan. Tetapi semua jawaban yang ia pertanyakan itu tidak satupun dapat menghibur kegelisahan bathin.

Ia sudah menjadi janda seorang diri, yang hidupnya tanpa ada arti apa-apa. Tidak ada yang mengenalinya. Sanak-saudara entah pergi kemana. Ia tidak miliki lagi tempat berbagi kasih dan canda riang dari si buah hati atau tempat untuk berteduh untuk melindungi tubuh.

Kesunyian selalu datang menghampiri perempuan setengah baya yang sudah menjadi janda itu. Ketika senja di langit sudah hilang di telan ujung barat, kota ini menjadi gelap gulita. Karena gardu listrik yang ada di setiap pelosok kota sudah tidak bisa memberikan aliran listrik untuk penerang lampu. Hancur tidak berbentuk, tertutup lumpur tebal.

Kenyataan memang sangat menyakitkan tapi hidup harus terus berjalan. Ia tak mengerti alur cerita hidup harus berakhir seperti ini. Harta benda dan segala yang dimiliki, juga suami dan kedua anaknya hilang musnah di peristiwa minggu pagi.

Di kegelapan malam antara reruntuhan dan lumpur basah. Ia merasa kesunyian itu semakin membunuh urat nadi di fikirannya. Bergentayangan di antara keinginan untuk hidup atau mati. Tidak tahu kemana lagi harus pergi. Karena tubuh sudah semakin lemah dan letih untuk bangkit dari suasana kematian di kota ini.

Pengalaman mengerikan yang ia alami masih teringat jelas dan kerap kali menimbulkan mimpi buruk dan trauma. Ia selalu menyalahkan diri sendiri karena tidak bisa menyelamatkan kedua anaknya. Ingatan itu membuat ia takut dan menyesal kenapa ia meninggalkan suami dan kedua anaknya rumah.

Wajah-wajah kepanikan, jerit dan tangis histeris, ketakutan akan air bah masih terbayang. Menggangu dirinya di setiap malam saat menjelang tidur di tempat-tempat pengungsian seadanya bersama orang kota lainnya. Suara-suara itu masih jelas terdengar menggelegar, meraung-raung dilangit hitam mengalahkan suara deru ombak sekeras sekalipun di laut.

Sekarang Inong tinggal di tenda-tenda pengungsian di halaman mesjid besar kota yang di sediakan oleh kaum pendatang dari luar kota yang datang untuk membantu meringankan penderitaan warga kota. Terkadang bila lapar datang, ia selalu bergentayangan ke segala tempat, mencari makanan untuk mengisi perutnya yang lapar. Entah makanan itu bersih atau kotor ia tetap mengganyang habis sampai tidak tersisa.

Bulan bintang selalu hadir di malam-malam berkabung. Sinar remangnya bertebaran di kota yang rusak. Setidaknya sinar itu masih bisa memberikan penerang pandang kepada Inong, perempuan setengah baya tanpa suami dan anak itu, untuk merenung dan menerawang seorang diri di lapangan mesjid besar kota atau menyandarkan tubuhnya di batang pohon kelapa yang berdiri di sisi jalan raya seberang mesjid besar kota.

Di tempat itu, ia selalu berbicara sendiri atau tertawa keras dengan kata-kata tidak terarah. suaranya terdengar lirih menyentuh hati setiap kali dirimu mendengar kisah cerita itu. Setelah itu wajah Inong kembali murung. Matanya memerah berkaca-kaca sampai menetes di bumi Rencong. Hingga akhirnya kelelahan menghinggap dan tidur terlelap beratap langit beralas lengan di saksikan sebatang pohon kelapa yang masih berdiri tegak di sisi jalan raya seberang mesjid besar kota..

0 Comments:

Post a Comment

<< Home