serunai impian

Thursday, April 07, 2005

Kemelut Nafas

Kabut tebal mulai beranjak hilang di pandangan mata. Tetapi udara pagi pegunungan masih sisakan dingin menusuk sumsum. Tak lama, fajar beranjak tumbuh di ujung timur. Menyembur tubuh warga kampung petani yang sedang menuai panen.
Di lembah subur berkeliling bebukitan, nyanyian lagu berirama sunda mengalun merdu di bibir-bibir mereka. Terasa hamparan hidup akan kembali datang.
Salman lelaki muda itu masih di pematang sawah. Matanya masih memperhatikan tanaman padinya yang siap untuk di panen. Sesekali tangannya meraih tali yang terentang di ladang, lalu mengerak-gerakan orang-orangan sawah. Menakut-nakuti burung pipit yang kala itu datang menyerang. Sesekali pandangannya menerawang ke bawah melihat hamparan pemukiman kota yang jelas terlihat.
Sore selepas waktu Ashar balai desa penuh dengan warga. Dari tua hingga anak-anak hadir mendengarkan musyawarah Rawutan1 para sesepuh kampung. Antusias mereka mengikuti alur perbincangan itu. Akhir musyawarah, sesepuh kampung memutuskan acara syukuran hasil bumi jadi di laksanakan dua hari lagi. Warga menyambut gembira keputusan itu. Merebaklah kehangatan.
Salman juga hadir di sana bersama pemuda kampung lainnya. Tetapi lirikan matanya menjadi gelisah. Dadanya berdegup keras ketika dia beradu pandang dengan seorang gadis yang ia ketahui bernama Mirna. Matanya jernih, berkulit langsat terbakar matahari, rambutnya tergerai di tiup angin, keringat merayapi dahinya.
Ah, cantiknya bagai mawar menyambut dengan senyuman, ujar hati Salman.
Ia berlahan mendekati.
“ Kau ikut menari dik?” tanya Salman mencoba membuka obrolan.
“ Iya…akang juga ikut serta di acara arak-arakan itu?” tanya Mirna menyambut
“ Aku tidak ikut, hanya ikut membantu membuat rangkaian pernak-pernik bersama teman-teman lainya”ujar Salman
Mirna pun tersenyum.
Obrolan mereka semakin lupa akan suasana riuh gembira di balai desa. Ketika bulan sudah bergelayut melingkar di langit. Mirna dan Salman pulang beriring akrab meniti jalan setapak di tengah rumpun bambu.


…………………………………
Dua hari menjelang hari syukuran, warga kampung mulai di sibukkan. Para ibu-ibu menyiapkan makanan. Mereka berkerja di beberapa rumah warga yang berukuran besar. Ada yang khusus menanak nasi, membuat kue, dan membuat lauk.
Salman dan para lelaki dewasa lainnya bertugas mendirikan panggung, membuat pintu gapura dari daun kawung dan bambu. Sementara para perempuan lainya menyiapkan beberapa bambu untuk para lelaki menyembelih kerbau di lahan kebun yang tak jauh dari kampung.
Para remaja putri dan anak muda lainnya berlatih kesenian termasuk Mirna. Menari berlenggak lenggok gemulai mengikuti alunan musik Gembyung2 dengan nyayian bersemangat.
Dibawah rumpun pohon rambutan Salman bersandar, memperhatikan mereka yang sedang berlatih. Terutama tertuju kearah Mirna. Sesekali dadanya berdebar, setiap kali Mirna melemparkan pandangan kearah Salman.
Hari yang di nantikan warga pun datang. Pagi hari warga sudah berkumpul di Balai Desa. Tempat di mana arak-arakan itu akan di awali. Beberapa warga dari luar Desa juga ikut menyaksikan acara syukuran hasil bumi itu.
Suara rebana dan kendang mulai mengalun ramai mengelilingi kampung. Para ibu-ibu dan remaja putri beriringan menari dan bernyanyi menghibur. Mereka tertawa sambil bercanda dan bermusik.
Tak jauh dari tempat mereka. Para lelaki berarak jalan sambil membawa dongdang3 yang di pikul di pundak. Dinding-dindingnya di hiasi tomat, cabai, nanas, rambutan dan buah-buahan lainya. Hasil bumi mereka segar-segar. Tak heran bila para warga yang menonton di pinggiran jalan. Mencoba nakal, mencomot sedikit demi sedikit buah-buahan yang terpajang.
Setelah usai pesta di musim panen. Keluarga-keluarga baru bermunculan di kampung itu. Seperti jamur tumbuh di musim penghujan. Begitu juga Salman dan Mirna mengakhiri masa lajangnya di kursi pelaminan. Menapak kehidupan baru di kampung subur yang di kelilingi berbukitan

…………………………………..
Dua tahun kemudian beberapa makelar tanah berasal dari kota datang ke kampung itu. Mereka membujuk para warga untuk mau menjual lahan-lahan pertaniannya yang berada di lembah. Alasan mereka ingin membeli lahan itu karena akan di jadikan penghijauan dan perkebunan kopi dan warga kampung itu akan ikut di jadikan sebagai karyawan.
Warga tidak begitu saja percaya pada bujuk rayu mereka. Hanya sebagian kecil warga yang mau menjual lahan sawahnya. Berbagai cara di lakukan oleh para makelar tanah itu untuk meloloskan keinginannya. Sempat mereka menyewa preman-preman kota untuk menakuti-nakuti warga. Sehingga warga terpaksa merelakan tanahnya untuk di jual.
Lama sudah lahan pertanian yang di beli para makelar tanah itu di telantarkan begitu saja oleh pemiliknya. Tetapi lahan pertanian habis di jual. Para warga mencoba membuka lahan pertanian baru dibawah bukit. Tidak seluas lahan pertaniannya yang dulu. Warga masih bisa bernafas lega atas hasil panennya.
Setelah di telantarkan cukup lama. Janji-janji para makelar tanah ternyata tidak sesuai dengan kenyataan. Para perkerja dari kota datang secara besar-besaran ke lembah. Membangun tembok pembatas dan membuka jalan aspal di sekitar kampung yang mengarah ke atas lembah. Bangunan-bangunan seperti pabrik di buat oleh para perkerja kota.
Warga mengira pembangunan itu akan di jadikan tempat usaha. kenyataannya truk-truk besar berisi aroma busuk yang datang setiap hari. Membawa ribuan kilo sampah dan membuangnya di lembah itu. Tak kenal waktu mereka lalu lalang di sepanjang siang dan malam seperti meludahi wajah kampung itu dengan kotoran.
Musim penghujan memang sudah datang, tetapi auranya tidak membawa kesegaran di mata warga. Tidak ada gemericik air yang mengalir dari bambu-bambu buatan. Hanya aliran limbah berwarna hitam pekat yang selalu datang dan aroma busuk yang menyelonong masuk menusuk hidung. Bila hujan reda, lalat-lalat berlomba berdatangan.
Melekat di teras-teras rumah hingga masuk keruang dalam.
Kegiatan di lembah itu masih terus berlangsung. banyak orang-orang berdatangan dan berkerja disana sebagai pemulung. Mereka mendirikan pemukiman gubuk berbahan kardus dan papan kayu bekas di sekitar area. Setiap hari selalu saja ada Truk pengangkut sampah yang datang hingga Lembah itu semakin ramai di kunjungi.
Suatu malam di balai desa, Salman dan pemuda kampung lainnya berkumpul membicarakan dampak lingkungan atas kehadiran limbah sampah yang kian hari kian menumpuk.
“Kita sudah di tipu oleh makelar-makelar kota itu. Ladang di lembah yang kita jual kepada orang-orang kota bukan untuk penghijauan atau perkebunan kopi, tetapi untuk di jadikan sarang sampah untuk orang-orang kota,” ujar Salman kesal.
“Anak saya sering sakitan perutnya, kalau pulang dari sekolah ia sering mengeluh karena pernafasanya selalu sesak,” ujar salah seorang warga menanggapi ucapan Salman.
Suasana langit di balai desa semakin memanas ketika warga yang ikut dalam perbincangan itu mengeluarkan segala kekesalannya atas kebohongan yang di lakukan para makelar tanah itu.
“Tanaman padi saya gagal total, air limbah itu mengalir ke sawah saya. Airnya berwarna merah membuat padi saya menjadi gabuk dan mati,”ucap pengaduan warga lainya.
“Kita tidak bisa berlama-lama dengan keadaan seperti ini.” tegas Salman kepada warga kampung yang hadir.
“Bila situasi ini terus-menerus menimpa lahan pertanian kita. Mau hidup dengan apa kita nanti. Sedang sumber penghidupan kita sangat bergantung dengan hasil pertanian yang kita kelola di tanah ini.” tambah Salman
“Kita harus adukan masalah ini ke balai kota..!”
Esok hari warga sepakat beramai-ramai datang ke balai kota. mengadukan nasib lingkungan mereka yang kian memburuk.
“Saya akan tampung permasalahan anda- anda semua. Maaf, bila kehadiran limbah sampah itu menggangu ketentraman wilayah di kampung anda. Keluhan anda-anda semua akan saya sampaikan ke pihak yang bersangkutan dan saya janji permasalahan ini akan saya perhatikan,” ujar salah satu Pejabat Balai Kota.
Tetapi pengaduan warga hanya sebatas pengaduan. Para pejabat di Balai Kota dan pihak pengelola lahan itu seperti tidak memperdulikan.
Sempat limbah sampah di lembah itu longsor dan turun menimbun tujuh rumah warga kampung yang berada dibawah. Tetapi kabar kematian itu tak urung menggerakan hati para pejabat di balai kota. Sampai-sampai warga kampung bosan untuk datang ke balai kota untuk mengadukan permasalahan limbah sampah itu. Mereka pasrah menerima kenyataan pahit itu.
Sudah tidak ada lagi ladang pertanian. Tidak ada sayuran, buah-buahan yang segar dan pesta Syukuran hasil bumi yang dulu sering mereka rayakan. Sumber air satu-satunya dari perbukitan sudah tercemar. Airnya tidak bisa di pakai karena licin bila menyentuh kulit. Rasanya asin dan bau bila di minum.
Tetapi hidup harus terus berjalan. Salman dan beberapa warga mencoba alih usaha menjadi tukang ojek di kampung itu. Dan beberapa warga kampung yang tak cukup uang meninggalkan lahan pertaniannya menjadi pemulung. Mengumpulkan barang-barang rongsokan dan plastik-plastik bekas untuk di jual kepada penadah di luar kampung.
……………………………………
Dua belas tahun sudah Salman bertahan di kampung kelahirannya. Ia sudah di karunia dua orang anak dari hasil perkawinannya dengan Mirna. Setiap tengah malam Mirna selalu menyempatkan diri untuk bangun. Mempersiapkan segala keperluan suaminya untuk berkerja. Jaket kulit dan kupluk4 selalu terlipat rapih di atas meja tamu. Selesai menjalankan salat malam secangkir kopi hangat selalu hadir ditangannya bersama senyum ia suguhkan kepada Salman.
“Kang, hati-hati kalau sedang mengendarai motor. Saat ini jalanan sedikit licin dan berkabut kalau turun hujan cepat-cepatlah pulang, tak usah ngoyo mengejar uang yang penting akang selamat. Sebab jalanan di TPA sana cukup terjal dan gelap. Aku takut terjadi apa-apa nanti dengan akang,” pesan Mirna setiap kali Salman pergi berkerja di larut malam.
Berkerja di malam hari bukan lah kemauan Salman. Tetapi di saat malam menjelang pagi seperti itulah puncak kesibukan di lembah. Salman bisa meraup cukup banyak mengantar penumpang yang ingin pergi atau pulang dari lembah itu. Semua penumpang kebanyakan para pemulung yang tinggal di bawah perkampungan. Alasan para pemulung memilih berkerja di malam hari karena bau busuk yang berasal dari endapan sampah tidak terlalu menyengat hidung di banding berkerja di siang hari. Sehingga berkerja dengan penerangan lampu petromaks sudah sangat cukup mendukung aktifitas mereka.
“Jangan kau terlalu gelisah setiap kali aku berangkat kerja di malam hari.
“Aku sudah terbiasa dengan jalanan terjal seperti itu,“ ujar Salman sambil mengeluarkan motornya dari dalam rumah.
Depan pintu rumah Mirna memandangi kepergian suaminya sampai jauh menghilang di telan kabut malam. Hatinya tetap gelisah.

…………………………………………………
Suatu malam menjelang pagi. Salman terbangun dari tidur. Ia melangkah berlahan tanpa suara meninggalkan tempat tidur. Dipandanginya kedua anaknya yang saat itu sedang tidur terlelap. Melangkah ke ruang belakang untuk berwudhu, menjalankan sholat malam. Selesai berwudhu, Salman mendengar suara letupan keras dari luar rumah lalu bergegas keluar ingin mengetahui sumber suara itu.
Dari teras rumah ia melihat percikan cahaya berulang-ulang di ikuti suara ledakan dari atas bukit. Sesaat kemudian aliran listrik padam bersama suara gemuruh yang semakin mendekat. Saat menengok keatas samar-samar melihat tanah dan gundukan sampah bergerak turun.
Salman langsung berlari kedalam kamar, membangunkan istri dan anaknya yang saat itu sedang terlelap tidur di kamar.
“ ada apa kang..?!, tanya Mirna yang saat itu terkantuk kaget.
Ia bingung melihat wajah suaminya ketakutan memaksa dirinya untuk segera pergi dari rumah.
“Anu….sampah…yang di atas bukit itu… bergerak turun menuju rumah kita. Cepat. kau keluar dan bangunkan anak-anak..!” cetus Salman.
Belum sempat mereka keluar rumah, gundukan sampah sudah menghadang mereka. Menerobos masuk pintu depan yang tengah terbuka. Jendela kaca depan pecah di terobos lumpur sampah. Mendesak dan mengepung ruangan tengah rumah. Tembok kamar roboh di hantam gundukan sampah yang terus bergerak.
“Emak…tolong…emak…!?” teriak kedua anaknya yang saat itu terlepas dari gegaman tangan Mirna. Tak lama kedua anak terhanyut gundukan dan tertimbun.
Suasana mencekam, ruangan gelap gulita. Salman dan Mirna mencoba berusahan keluar dari kepungan sampah yang semakin mengubur rumah mereka.
“Tolong…tolong… teriak Mirna galau.
Dalam keadaan kalap dan gelap gulita, Salman masih bisa melihat keremangan. Ia mencoba bergerak merayap naik ke atas gundukan sampah. Tubuhnya terdesak mengapung ke atas. Mencoba membongkar langit-langit rumah. Tetapi belum sempat ia membongkar, atap rumah sudah ambruk menimpa tubuh. Lengan tangan kanan terkilir. Ia mencoba keluar dari himpitan kayu-kayu.
“Mirna... ! kau ada di mana..?!”teriak Salman gelisah.
Tangannya mencoba meraba-raba mencari sesuatu benda yang bisa membuat ia keluar dari himpitan. Gundukan sampah masih bergerak mendesak dengan suara gemuruh.
“Aku di sini kang..”teriak Mirna ketakutan.
Dengan setengah badan terapung sampah. Mirna melangkah merayap. Meringkuk ke pinggiran tembok ruangan.
“Mirna kau ada di mana,…Adi…Ira..?! ”teriak ulang Salman semakin gelisah dan galau mencari istri dan anaknya di keremangan pandangan. Tubuh semakin terendam dan terus berusaha menghindar dan naik keatas gundukan sambil mencari istri dan kedua anaknya
“ Aku di sini kang,’ jawab Mirna bernada lemah,
Salman mendekat asal suara itu. Melihat mirna dalam keremangan sedang terlingkup tak berdaya di pinggiran reruntuhan tembok ruang. Di peluknya Mirna. Mereka pasrah, tak berdaya dalam gelap timbunan sampah yang bergemuruh.
Tak lama Suasana menjadi hening dan bisu. Hanya suara isak tangis dan suara batuk dari mulut mirna yang sesekali keluar. Salman masih memeluk erat istrinya.
“Kang, badanku dingin sekali, kepalaku terasa berat…
“Anak-anak dimana ..….?”lirih Mirna.
“Aku sulit untuk bernafas… “ suara Mirna perlahan diam. Sesaat kemudian…….
Salman tidak bisa bicara. Tenggorokanya sudah penuh dengan lumpur. Kedua tangannya masih memeluk tubuh istrinya yang sudah diam. Tubuhnya menggigil dingin, detak jantung perlahan berhenti…….………..


Subang, 22 Febuari 2005

Keterangan:

1. Ruwatan merupakan budaya lokal sunda yang di rancang para leluhur suku sunda,
di daerah Subang sejak tahun 1800
2. Gembyung adalah kesenian tradisioanal yang sarat dengan dengan puji-pujian Islam
3. Dongdang adalah tanduk berbentuk rumah yang di hiasi berbagai hasil bumi
4. Kuplup : Topi berbahan wol berbentuk kopiah ukuran besar sebagai alat penghangat
kepala dari udara dingin

1 Comments:

  • aslm. wr wb
    mmm...wah cerpennya bagus banget (ini cerpen kan yah?)cocok banget nih buat persiapan nanti kkn kesubang, tapi cerpennya baru dibaca dikit, soalnya lumayan panjang nih...^_^ wass

    By Blogger nukla, at 6:58 AM  

Post a Comment

<< Home