Aku Sang Pendosa
Belakangan ini aku dihinggapi rasa bersalah pada semua orang. Egoku tak terbendung, hingga bertemu pada satu titik, “Betapa jahatnya aku ini”. Kedekatan dengan orang-orang tercinta seperti permainan yang harus dihitung dengan ukuran matematika. Lidah tajam bak belati, mematikan sendi urat nadi manusia. Inilah aku, sang pendosa.
Subang, 22 Mei 2005
Sebentar lagi usiaku genap 33 tahun, sendiri dan hanya bersahabat dengan sepi. Klise banget! Tetap melajang di usia kepala tiga lebih ini bukanlah sesuatu yang buruk. Mungkin saja Tuhan ingin menempatkanku di tempat paling indah di syurga, agar semasa hidupku bisa selalu berbakti pada keluarga, terutama ibu. Bukankah setelah memiliki keluarga sendiri, langkah kita khususnya perempuan, sangat terbatas untuk meringankan beban orang tua. Banyak kejadian melingkari kehidupan perempuan yang sudah berkeluarga, tak berani mengambil keputusan, antara lain harus sembunyi-sembunyi menyisihkan uang belanja untuk mengirim uang pada ibu atau biaya sekolah adiknya di kampung.
Ibu sering mengatakan, “Jangan ceritakan dulu sakit ibu ini pada kakak-kakakmu yang sudah berkeluarga.” Heks….! Begitu pekanya rasa seorang ibu yang tidak ingin merepotkan anak-anaknya. Kadang tercetus dalam pikirku, betapa istimewanya mereka yang sudah menikah. Mereka hidup di dunia lain dan tak terjamah. Mereka sepertinya mengerti persoalan orangtua, tapi mengapa saat melakukan kunjungan sebulan, dua bulan atau bahkan setahun sekali, mereka hanya bisa berharap, “Ibu, dapatkan ibu mengerti kesulitan kami setelah berkeluarga?”
Astagfirullahal’adzim, itulah matematika berpikirku. “Ya, Allah…jadikan hamba muslimah yang ikhlas.” Jangankan menjadi muslimah yang shalehah, menjalani tahapan ikhlas rasanya aku tak layak. Lalu, bagaimana mungkin menempati taman terindah yang dijanjikan-Nya bagi mereka yang beriman dan bertakwa pada Allah SWT. (kadang aku membayangkan menjadi bidadari syurga di sana…..:P)
Hari ini aku berada dekat dengan ibu. Aku perhatikan ibu yang sedang asyik berendam di pemandian air hangat Ciater, seperti anak kecil yang menemukan tempat bermain. Ada beberapa orang tua seusia Ibu yang turut berkecipak-kecipak di air, merasakan hangatnya air sungai yan tak berhenti mengalir. Pagi yang indah, masyarakat sekitar yang ramah.
Tak terasa dua jam aku menunggu ibu berendam. Saat itu aku tak berani turun ke air, karena tidak membawa pakaian ganti. Karena memang niatnya hanya ingin membawa ibu ke Ciater, mungkin saja dengan begitu penyakit rematik ibu bisa membaik. Setelah itu, kami pun makan di sebuah resto sederhana yang harganya tidak sederhana. Bayangkan saja, untuk semangkuk sayur asem yang rasanya manissss berbau terasi pekat harganya Rp 4000. Total makanan yang harus dibayar sekitar Rp 30.000 untuk semangkuk sayur sop, sayur asem, sambalan beserta lalapan, tahu dan tempe goreng.
Sesampainya di rumah, ibu mengatakan pegal-pegal di badan khususnya pundak agak enak, nafas pun tidak tersengal lagi (sebelumnya ibu pernah menjalani perawatan penyakit paru/TB selama enam bulan). Ibu pun tak kalah serunya bercerita pada teman-teman pengajian dan tetangga, betapa asyiknya berendam di Ciater. Seraya wanti-wanti, “Kalau ke sana lagi, bawa bekal makanan dari rumah, makanan di sana mahal-mahal. Harga ini aja bla…bla…bla…”
Aku bersyukur, kesehatan ibu sepertinya membaik. Nafsu makannya pun bertambah. Malam yang belakangan ini tidak bisa dilalui dengan tidur nyenyak karena ada “jerit tengah malam” yang memikul perih pada dengkul kaki ibu kali ini bisa dilewati dengan aman. Oleh karena itu, paginya aku ajak ibu jalan-jalan pagi menyusuri trotoar menuju ke pasar.
Udara pagi memang menyehatkan. Apalagi kota Subang begitu bersih, jalur kendaraan yang lalu lalang tidak begitu banyak. Keramaian cukup terlihat saat-saat menjelang Hari Raya saja, karena jalur kendaraan bus antar kota yang melewati rumahku menjadi jalur alternatif pantura. Itu pun hanya malam hari. Pengendara angkutan umum, sepeda motor, becak, di pusat kota ini memang sangat tertib lalu lintas.
Pulang dari pasar dengan tetap berjalan kaki, ibu merasa lebih segar. Sempat berpikir pula, lain kali harus lebih banyak olahraga jalan kaki biar sehat dengan mengajak teman-teman dekat rumah. Sore harinya menjelang magrib, aku merasa aneh mengapa ibu tidur-tiduran saja di tempat tidur. Aku raba dahinya, terasa panas…tangannya…. Astagfirullah … apa aku terlalu memaksakan kehendak agar ibu rajin olahraga pagi. Sekujur badan ibu panas dan nyeri di persendiannya pun makin menjadi.
Ibu terdiam lemah, sesekali melenguh kesakitan merasakan nyeri yang berpindah-pindah tempat di tulang punggung belakang, pinggul dan kaki. Sementara nyeri di dengkul yang biasanya mengganggu tidur ibu tiap tengah malam, saat itu tidak lagi. “Mungkin ini proses dari pengobatan Ciater,” cetus ibu mencoba menghapus kekhawatiranku. Saat itu hanya ada kakak pertama dan aku yang berada di dekat ibu. Aku tak berdaya melihat ibu. Berkali-kali aku merutuk diri sendiri, kenapa…kenapa…aku membawa ibu ke Ciater, selagi belum sehat diteruskan jalan-jalan pagi…kenapa??!
Ciputat, 28 Mei 2005
Inginnya berlama-lama menemani ibu di Subang. Sayangnya, Kamis (26/5) ada liputan di Puskesmas Kelurahan Bukit Duri, Jaksel. Jadi, Senin (24/5) aku pulang untuk mempersiapkan rencana kerja di minggu-minggu berikutnya. Sebenarnya minggu-minggu ini bukanlah minggu yang sibuk, karena majalah sudah naik cetak dan aku bisa “membolos” kapan pun aku mau. Tau sendirilah cara kerja wartawan majalah yang terbit bulanan, apalagi bukan majalah komersil yang diminati banyak orang. Datang ke kantor cuma setor satu atau dua naskah untuk majalah atau untuk majalah on line.
“Rahma, besok ibu harus ke dokter rumah sakit Ciereng. Harus cek, apa benar ibu terkena asam urat,” cetus ibu di telepon pada Kamis (26/5) sepulangnya dari Puskesmas. Saat itu, ibu mungkin lupa bahwa hari ini ulang tahunku. Tak mengapa, karena aku tahu ibu lebih mengingat hari ulangtahunku pada hari bersejarah kelahiran Nabi Muhammad, khususnya pada malam-malam ke 13 – 14 di bulan Rabi'ul Awal, saat purnama bersinar indah.
Esok harinya, ibu telepon ke hp dengan nada resah. “Rahma, kata dokter ibu terkena osteo…apa tuh yang bikin tulang ibu keropos. Tiap minggu harus cek ke rumah sakit.” Ibu terkena osteoporosis, penyakit yang banyak dialami perempuan pasca menopause, sampai saat ini belum ditemukan obatnya. Lalu, aku sarankan ibu untuk banyak minum susu jangan sehari sekali, minimal dua kali sehari dan rajin berjemur di pagi hari sebelum jam 9. Sayangnya untuk mengkonsumsi sayur-sayuran yang banyak mengandung vitamin D seperti pada sawi, kerap terjadi komplikasi pada rematik dan asam uratnya. Ditambah di rumah tidak ada pembantu, semua harus ibu yang mengerjakan.
Setelah itu, aku pun berunding pada dua kakak perempuan dan adik yang ada di Jakarta. Kakak kedua (sudah berkeluarga) menganjurkan membawa ibu tinggal di Bekasi, dia siap menyediakan rumah kontrakan untuk ditempati aku, ibu, saudaraku yang lain. Kakak ketiga (tinggal seatap denganku dan masih sama melajang), mengusulkan nyari pembantu untuk merawat ibu. sedang si bungsu menyarankan, jual rumah di Subang cari rumah di Bekasi.
Banyak pertimbangan. Aku tahu semuanya baik, tapi ibu pasti punya jawaban sendiri. “Udah…nggak apa-apa ibu bisa pergi ke dokter sendiri, masak makanan sendiri atau beli yang sudah matang,” ujar Ibu menampik niat baik anak-anaknya untuk tinggal di rumah kontrakan.
Aku sudah tau jawaban ibu akan seperti itu. Ibu tidak bisa meninggalkan Kakak pertama dalam waktu lebih dari tiga hari. Seandainya kakak pertama diajak pun, tidak bisa sembarang tinggal di suatu tempat. Situasinya harus tenang, tidak ada konflik yang bisa memicu syarafnya. Rumah di Subang sudah berhasil membentuk kejiwaan kakak menjadi pribadi yang lebih baik, sedikit mandiri dan berpikiran jernih.
Akhirnya aku putuskan, biarlah pada bulan-bulan ke depan aku akan lebih sering berada di Subang untuk merawat ibu, menemaninya ngobrol. Libur Sabtu-Minggu, bisa kuhabiskan di Subang. Berbagai rencana dan kekhawatiran akan penyakit ibu, membuat emosi tak terkontrol saat berada di rumah melakukan rutinitas pagi.
Sabtu (28/5) pagi, entah mengapa emosiku begitu labil. Mungkin juga bawaan perempuan yang sedang datang bulan di hari pertama jadi mudah terpancing emosi. Atau mungkin kadar keikhlasan masih di bawah nol persen. Hari itu aku masak cah kangkung jagung, ayam goreng, emping plus sambal. Nah, saat mau meletakkan cowet sambal ke meja, aku kaget ternyata di bawah cowet ada sebungkus gula pasir yang sudah terbuka dan isinya tercecer ke rak sepatu.
Nggak jelas datangnya angin ribut dari mana, aku marah-marah pada adik. “bla…bla… kalau numpang harus tau diri dong..bla..bla..” Saat itu, aku tidak mau mendengar pembelaan adik, yang aku tahu pendapatku harus didengar.
Beberapa menit kemudian, aku sadar ucapan ini terlalu kasar. Tapi parahnya, aku bukan orang yang mudah meminta ma’af dalam bahasa lisan. Aku tak sengaja mengatakan hal ini, lidah memang lebih tajam daripada pisau. Setelah itu, aku lihat adik terduduk saja di kamar, tak banyak bicara. Hari ini yang seharusnya aku ada janji dengan teman, rencananya ingin aku batalkan. Karena tak ingin terjadi apa-apa dengan adik akibat perkataan yang terlontar tak sengaja.
Istigfar beberapa kali tetap tak bisa mengucap secara lisan pada adik tentang kebodohanku ini. Akhirnya, aku memutuskan untuk menepati janji bertemu dengan seorang teman dengan pikiran menerawang ke rumah. Pulang kembali ke rumah, tetap aku merasa bersalah dan lidah kaku berujar kata ma’af.
“Ma’afkan aku sang pendosa. Aku menyayangi kalian semua tanpa pernah berharap imbal jasa.”
"Robb.....masih layakkah aroma surga untukku?"
0 Comments:
Post a Comment
<< Home