serunai impian

Thursday, May 26, 2005

Tiga Puluh Tiga Tahun Lalu

Kemarin, 33 tahun lalu lahir bayi merah dari rahim seorang ibu setengah baya yang sudah cukup melahirkan banyak anak. Sebelumnya, wanita berusia 30-an tahun ini merasa was-was karena di rumah sakit tempat ia dirawat begitu banyak ibu hamil yang harus menangisi kepergian janin yang dilahirkannya. Innalillaahi wa innailaihi roji'un, begitu terucap di sela helaan nafas para perawat yang lalu-lalang menghantar kesibukan menangani pasien di ruang persalinan. Seraya berdo'a, wanita yang telah melahirkan lima orang anak ini berharap anak keenamnya bisa lahir dengan selamat dan sehat wal'afiat.

Jam masih menunjukkan pukul 8.00 malam saat itu, si wanita terbaring sendiri, karena suami tercinta sedang memberikan ceramah tentang Hikmah Maulid Nabi Muhammad SAW di masjid dekat rumah. "Jangan lupa, minta do'a dari semua anggota pengajian agar anak kita lahir dengan selamat," cetus si wanita yang sedang hamil tua saat melepas kepergian suaminya itu.

Tak tergambar betapa gundahnya sang suami harus meninggalkan istrinya yang sewaktu-waktu bisa melahirkan kapan saja. "Itu pasti Bu, jangan khawatir," ujar lelaki setengah baya seraya membetulkan letak selimut istri tercintanya.

Waktu terus berlalu, sambil menahan sakit detik-detik menunggu kelahiran sang ibu serasa asyik memandangi purnama yang saat itu bersinar penuh. Lantunan ayat suci Al Qur'an dari rumah-rumah penduduk sekitar dan masjid yang marak meramaikan acara menyambut kelahiran Nabi Muhammad pun ikut menenangkan hatinya yang diselimuti rasa gundah.

Rasa sakit ingin melahirkan pun kian terasa saat waktu menunjukkan pukul 11 malam. Kesibukan pun segera terjadi. Peluh keringat mengucur deras. Beruntung, suami tercinta telah ada disampingnya dengan bibir yang tak henti mengalir kata-kata sejuk. Kelahiran anak ke enam ini memang terasa beda, ada banyak kekhawatiran mengingat banyak bayi yang meninggal saat itu.

Alhamdulilah, bayi mungil itu lahir dengan selamat tepat tengah malam. Namun suka cita itu tak berlangsung lama, esoknya setelah beberapa hari dibawa ke rumah, bayi tersebut sulit bernafas dengan demam yang tinggi. Sontak seiisi rumah mendadak tegang. "Kenapa jantungnya seperti berhenti berdetak," ucap ibu bayi itu lirih.Tanpa pikir panjang adik ipar perempuannya yang kebetulan bertugas di RSCM segera membopong keponakkan kesayangannya itu dengan berlari-lari ke rumah sakit. Saat itu, jarak rumah ke Rumah Sakit Cipto bisa ditempuh sepanjang 5 km dengan hanya berjalan kaki. Maklum kendaraan belum terlalu banyak dan saat itu tengah malam.

Kejar-kejaran pun terjadi. Antara sadar dan setengah sadar wanita pemilik bayi itu menangis merongrong tak tahu apa yang harus diperbuat. Angin malam di bulan Mei telah membawa kabar yang tak menyenangkan. Sementara, bukan masalah anak ke enamnya saja yang menjadi bahan pikiran. Sudah seminggu ini anak lelaki pertamanya seperti hilang ingatan. Berbagai obat dari dokter dan ramuan obat tradisional telah dicoba, namun keadaan makin parah. Sewaktu-waktu syarafnya bisa terganggu dan merusak sekitarnya.

Kilas balik di tahun-tahun belakang adalah cerita yang tak perlu dibahas lagi. Nyatanya bayi merah itu bisa tumbuh sehat dan sempat mengecap alam reformasi yang penuh semangat perjuangan.

Subhanallah Robbi....betapa besar karuania-Mu menghadirkan orang-orang shaleh disekitarku sehingga bisa menjadikan diriku yang seperti sekarang ini. Ibu yang tak henti mendo'akan kebahagiaan anak-anaknya. Wanita perkasa yang "tahan banting" yang selalu berpikir optimis atas cobaan yang Kau beri. Bapak yang telah banyak menebar benih-benih agama dan berkesenian dalam hidupku. Kakak-kakak dan adik yang seperti teman, sahabat walau terkadang menjadi saingan dalam mengejar prestasi.

Terimakasih Ya Allah.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home